Dampak Kecelakaan Pesawat Boeing terhadap Reputasi Perusahaan dan Pertumbuhan Ekonomi di Amerika Serikat

Ditulis oleh: Gita Laksita Jatismara

Krisis Kepercayaan Terhadap Boeing 

The Boeing Company atau perusahaan Boeing merupakan perusahaan aerospace. Perusahaan ini memiliki beberapa segmen. Pertama, commercial airplanes (BCA) yang memproduksi keluarga pesawat jet komersial, meliputi model 737 narrow-body, model 767, 777, dan 787 wide-body (Osiris, 2025). Kedua, segmen Defense, Space, dan Security (BDS) yang mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan pesawat jet komersial terutama untuk industri penerbangan komersial di seluruh dunia (Osiris, 2025). Terakhir, Global Services (BGS) yang menyediakan layanan kepada pelanggan komersial dan pertahanan di seluruh dunia (Osiris, 2025). Akan tetapi, pesawat jet komersial yang diproduksi oleh Boeing mengalami isu kualitas yang terlihat dalam beberapa kecelakaan yang dialami.

Dunia penerbangan diguncang oleh beberapa tragedi kecelakaan pesawat terbang Boeing. Pada 29 Oktober 2018, Lion Air Flight 610 mengalami kecelakaan akibat permasalahan teknis yang menewaskan 189 orang (BBC, 2018). Lima bulan setelahnya pada 10 Maret 2019, Ethiopian Airways Flight 302 turut pula mengalami kecelakaan akibat permasalahan teknis yang menewaskan 157 orang (Petchenik, 2023; McLaughlin & Maestro, 2019). Kecelakaan tersebut dialami oleh pesawat jet komersial Boeing dengan tipe 373 Max. Permasalahan teknis yang terjadi berupa gagalnya Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) sebagai pengatur stabilitas pesawat (Gillings, 2025).

Dua kejadian Boeing 373 MAX (2018 dan 2019) tersebut memicu kekhawatiran keselamatan (Eshun et al., 2025).  Dua kejadian fatal tahun 2018 dan 2019 secara jelas merupakan kesalahan perusahaan (Gillings, 2025). Akibatnya, Boeing dilarang terbang secara global selama 20 bulan (Petchenik, 2023). Tidak hanya dua kejadian pada tahun 2018 dan 2019 saja, Boeing 373 Max 9 milik Alaska Airlines mengalami ledakan akibat lepasnya sumbatan pada pintu pada Januari 2024 (Isidore, 2024). Beberapa kecelakaan yang terjadi tersebut berkaitan dengan isu kualitas dan teknis pesawat yang diproduksi oleh Boeing sehingga memicu krisis kepercayaan.

Tulisan ini bertujuan untuk melihat pengaruh kecelakaan pesawat Boeing 737 Max terhadap reputasi perusahaan dan ekonomi di Amerika Serikat. Reputasi Boeing dilihat dari harga saham Boeing, pembatalan pesanan pesawat Boeing, dan harga saham Airbus sebagai lawan dalam pasar duopoli pesawat terbang. Sedangkan, pengaruh terhadap ekonomi di Amerika Serikat dilihat dari proporsi revenue Boeing terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat. 

 

Pengaruh Kecelakaan Boeing Terhadap Reputasi Perusahaan

Pergerakan Harga Saham: Kepercayaan Investor

Grafik 1. Tren Harga Saham Boeing

Sumber: Osiris (2025), diolah penulis

 

Tanggal

Harga Saham Boeing

2018–2019

Sep 2018

371.9

Oct 2018

354.86

Nov 2018

346.76

Dec 2018

322.5

Jan 2019

385.62

Feb 2019

439.96

Mar 2019

381.42

Apr 2019

377.69

May 2019

341.61

Jun 2019

364.01

Jul 2019

341.18

2023–2024

Sep 2023

191.68

Oct 2023

186.82

Nov 2023

231.63

Dec 2023

260.66

Jan 2024

211.04

Feb 2024

203.72

Mar 2024

192.99

Apr 2024

167.84

Tabel 1. Harga Saham Boeing Periode Kecelakaan (2018, 2019, 2024)

Sumber: Osiris (2025), diolah penulis 

 

Kecelakaan pesawat Boeing menurunkan kepercayaan para investor saham sebagai cerminan turunnya reputasi perusahaan. Reputasi saham merupakan intangible asset atau aset perusahaan tak berwujud yang berperan penting dalam(). Aset tersebut merupakan prediktor penting dalam keputusan investor saham (Blajer-Gołębiewska, 2024). Berdasarkan tren harga saham (Grafik  1), kecelakaan Boeing terbukti menurunkan kepercayaan investor. 

Kecelakaan Lion Air Flight pada 29 Oktober 2018 akibat masalah teknis menjadi pukulan reputasi awal bagi Boeing. Pasca kecelakaan Boeing pada 29 Oktober 2018, terjadi tren penurunan harga saham selama 2 bulan berturut-turut (Grafik 1). Secara nilai uang (Tabel 1), penurunan terjadi dari 354.86 USD (Oktober) menjadi 346.76 USD (November) dan 322.50 USD (Desember) (Osiris, 2025). Penurunan harga saham ini mengindikasikan bahwa investor mulai mempertimbangkan faktor keselamatan pesawat dan mulai tidak percaya dengan kualitas pesawat.

Krisis reputasi dan kepercayaan memuncak setelah tragedi Ethiopian Airways Flight 201 pada 10 Maret 2019 yang terjadi lima bulan kemudian dengan sebab masalah yang sama. Kecelakaan kedua Boeing dalam waktu berdekatan tersebut yang dilanjutkan larangan terbang oleh FAA memukul reputasi Boeing secara beruntun. Reaksi regulator dan pasar kali ini jauh lebih signifikan. Pasca kejadian tersebut, Donald Trump mengumumkan larangan terbang bagi Boeing 737 Max pada 13 Maret 2019 (Liptak, 2019). Federal Aviation Administration (FAA) mengeluarkan emergency order (perintah darurat) atau prohibition grounding (larangan terbang) untuk Boeing 737 Max sebagai respons atas dua kejadian fatal selama lima bulan (Reuters, 2019; FAA, n.d.). 

Sebelum kecelakaan Maret 2019, harga saham Boeing memuncak di bulan Februari setelah terjadi penurunan berturut-turut akibat kecelakaan Oktober 2019 (Grafik 1 dan Tabel 1). Harga saham mencapai puncaknya di 439.96 USD (Februari 2019) dan terjun bebas menjadi 381.42 (Maret 2019) yang menunjukkan reaksi panik dan divestasi besar-besaran dari investor. Penurunan harga saham terus berlanjut selama 5 bulan hingga mencapai titik terendah sebesar 341 USD (Juli 2019), meskipun sempat terjadi sedikit rebound minor di bulan Juni. Penurunan drastis harga saham yang berkelanjutan selama hampir setengah tahun pasca kedua kecelakaan dan sanksi grounding FAA tersebut menegaskan terjadinya keparahan atas krisis kepercayaan.

Beberapa tahun kemudian, reputasi Boeing kembali diguncang atas insiden serius 737 Max 9 milik Alaska Airlines pada 5 Januari 2024 berupa lepasnya sumbatan pintu darurat pesawat saat penerbangan (door plug blowout). Insiden ini kembali terjadi akibat permasalahan teknis dan kontrol kualitas (Leggett, 2024). Hal tersebut memvalidasi kekhawatiran pasar bahwa isu kontrol kualitas produksi Boeing belum terselesaikan.

Reaksi investor terhadap insiden ini terjadi secara cepat dan menurunkan harga saham secara signifikan selama empat bulan berturut-turut. Sebelum insiden 2024 tersebut, Boeing mengalami tren kenaikan harga saham yang pesat sejak September 2023 hingga Desember 2023 (Grafik 1). Harga saham berada pada angka 191.68 USD (September 2023), terus naik menjadi 186.82 USD dan 231.63 USD (Oktober dan November 2023), serta puncaknya 260.66 USD (Desember 2023) (Tabel 1). Setelah insiden, harga saham jatuh drastis menjadi 211.04 USD (Januari 2024) dan terus turun hingga 177.61 USD (Mei 2024). 

Pergerakan harga saham yang reaktif dan selalu turun pasca insiden pesawat Boeing 737 Max secara konsisten dari seluruh periode (2018, 2019, dan 2024) menegaskan bahwa investor (pasar) melihat terjadinya masalah kualitas produk, manajemen produksi, dan isu kontrol pada Boeing. Dengan adanya hal itu, Boeing mengalami krisis kepercayaan dan rusaknya nilai perusahaan yang turut merusak reputasinya. Krisis 2024 semakin menunjukkan kegagalan Boeing untuk sepenuhnya memulihkan kepercayaan investor.

 

Jumlah Pesanan Pesawat yang dibatalkan: Kepercayaan Pelanggan

 Grafik 2. Tren Pembatalan (cancellation) Pesanan Pesawat Boeing

Sumber: The Boeing Company (2025), diolah penulis

Kecelakaan pesawat Boeing menyebabkan keraguan yang mendalam bagi maskapai penerbangan di seluruh dunia sebagai pelanggannya. Krisis kepercayaan Boeing tidak hanya mempengaruhi kepercayaan investor, tetapi juga merusak reputasi perusahaan di mata pelanggan. Rusaknya reputasi dan kepercayaan oleh pelanggan ini tercermin dalam jumlah pesanan pesawat yang dibatalkan setelah terjadi kecelakaan. Berdasarkan laporan The Boeing Company (2025), pasca kecelakaan tahun 2018, 2019 dan 2024, pesanan selalu konsisten menunjukkan kenaikan pembatalan setelah periode sebelumnya mengalami penurunan pembatalan (Grafik 2).

Setelah kecelakaan pada Oktober 2018, jumlah pembatalan pesawat meningkat signifikan setelah mengalami penurunan pada tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut sebesar 36,2% (dari 141 unit pada 2017 menjadi 192 unit pada 2018). Padahal, pada periode sebelum kecelakaan, terjadi penurunan pembatalan sebesar 21,7% (dari 180 pada 2016 menjadi 141 pada 2017). Peningkatan ini menunjukkan reaksi pelanggan sebagai sinyal terjadinya ketidaknyamanan akibat isu keselamatan dan kualitas pesawat.

Peningkatan pembatalan berlanjut pada 2019 dengan jumlah dan proporsi yang sama sebesar 36,2% (2017). Kenaikan pembatalan ini dipicu oleh kecelakaan fatal kedua yang diikuti larangan terbang global selama 20 bulan oleh FAA. Larangan terbang tersebut memberikan konsekuensi bagi pelanggan maskapai penerbangan untuk menunda dan membatalkan rencana ekspansi armada pesawat terbang karena ketidakpastian kualitas, pengiriman, dan pengoperasian. 

Sedangkan, pasca insiden Januari 2024, pembatalan pesanan pesawat meningkat setelah mengalami penurunan pembatalan yang tajam pada beberapa tahun sebelumnya (Grafik 1). Empat tahun sebelum insiden 2024, pembatalan pesanan terus turun sangat tajam dari 655 pesawat pada 2020 dan berkelanjutan hingga hanya menjadi 142 pada  2023. Akan tetapi, setelah insiden 2024, pembatalan pemesanan meningkat 35,21% (142 pada 2023 menjadi 192 pada 2024). Secara jelas, maskapai penerbangan yang prioritas utamanya adalah keselamatan penumpang merespons insiden dengan menunda pembelian baru dan membatalkan pesanan lama karena khawatir dengan kualitas pesawat yang akan diterima. Hal tersebut kembali menunjukkan validitas gagalnya Boeing dalam menyelesaikan isu kontrol kualitas, keselamatan, dan pengawasan produksi.

Kenaikan konsisten dalam jumlah pembatalan pesanan pasca setiap insiden adalah indikator paling konkret dari krisis kepercayaan pelanggan. Pembatalan pesanan tidak hanya berdampak pada kerugian finansial jangka pendek bagi Boeing, tetapi juga merusak reputasi jangka panjangnya sebagai produsen pesawat yang aman.

 

Perbandingan Pergerakan Harga Saham Boeing dan Airbus Sebagai Pesaing Boeing pada Periode Kecelakaan

Krisis reputasi dan kepercayaan oleh pasar dan pelanggan Boeing akan menguntungkan pesaingnya. Dalam pasar duopoli pesawat terbang, Airbus dan Boeing menjadi pemain utama (Braga, 2025a). Dua kecelakaan besar Boeing yang mengguncang dunia dalam kurun waktu 5 bulan (Oktober 2018 dan Maret 2019), membuat posisi kompetitifnya terkikis dibanding pesaing beratnya, Airbus (Braga, 2025b). Pasar merespons dengan mengalihkan kepercayaan kepada Airbus sebagai alternatif substitusi. Hal tersebut ditunjukkan oleh Grafik 3. 

Grafik 3. Tren Pergerakan Harga Saham Boeing dan Airbus

Sumber: Osiris (2025), diolah penulis

 

Pasca kecelakaan Boeing tanggal 29 Oktober 2018, Boeing dan Airbus sama-sama menunjukkan tren penurunan harga saham selama 3 bulan hingga akhir tahun. Akan tetapi, setelah kecelakaan kedua Boeing pada 10 Maret 2019, harga saham Boeing mengalami penurunan dan Airbus justru mengalami kenaikan pada bulan April. Tren berkebalikan tersebut kembali terjadi saat pasca kecelakaan Januari 2024 dan terjadi terjadi dalam periode waktu yang semakin lama. Pasca Januari 2024 (selama 3 bulan, Januari hingga Maret), harga saham Airbus mengalami kenaikan selama dibersamai dengan penurunan harga saham Boeing.

Airbus sebagai pesaing Boeing dalam pasar Duopoli mampu memanfaatkan keadaaan krisis Boeing dengan mengambil alih keuntungannya. Airbus menyediakan pesawat alternatif dari Boeing yaitu A320neo pengganti Boeing Max 737 MAX 38 dan terus meningkatkan produksi dan strategi penjualan (Jasrotia et al., 2024). Pada akhirnya, Airbus telah meningkatkan pangsa pasarnya di pasar-pasar utama seperti Eropa, Asia, dan Amerika Utara, yang sebelumnya didominasi oleh Boeing (Jasrotia et al., 2024)

 

Pengaruh Kecelakaan Boeing terhadap Ekonomi Amerika Serikat

Pengaruh kecelakaan Boeing terhadap ekonomi di Amerika Serikat dapat dilihat dari kontribusi revenue perusahaan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Grafik 4. Tren Proporsi Revenue Boeing Terhadap PDB Amerika Serikat

Sumber: CEIC (2025); Macrotrends (2025), diolah penulis

 

Tanggal Kuartalan Revenue Boeing

(Juta USD)

PDB Nominal AS 

(Juta USD)

Proporsi Revenue Terhadap PDB (%)

2018–2019

3/31/2018

$23,382 4962410 0.47%

6/30/2018

$24,258 5161540

0.47%

9/30/2018

$25,146 5221630

0.48%

12/31/2018

$28,341 5310940

0.53%

3/31/2019

$22,917 5141830

0.45%

6/30/2019

$15,751 5376010

0.29%

9/30/2019

$19,980 5448230

0.37%

12/31/2019 $17,911 5573410

0.32%

2023–2024

3/31/2023

$17,921 6663140

0.27%

6/30/2023

$19,751 6914790

0.29%

9/30/2023

$18,104 7046730

0.26%

12/31/2023

$22,018 7187450

0.31%

3/31/2024

$16,569 7029170

0.24%

6/30/2024

$16,866 7311790

0.23%

9/30/2024

$17,840 7396940 0.24%

12/31/2024

$15,242 7554100

0.20%

3/31/2025

$13,436 7354050

0.18%

6/30/2025

$22,749 7640870

0.30%

Tabel 3. Revenue Boeing, PDB AS, dan Proporsi Revenue Terhadap PDB AS dalam Kuartal

Sumber: CEIC (2025); Macrotrends (2025), diolah penulis

 

Kecelakaan fatal yang menimpa Boeing 737 MAX pada tahun 2018 dan 2019 serta insiden serius tahun 2024, memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perekonomian Amerika Serikat. Dampak ini terutama terwujud melalui penurunan drastis pada kontribusi pendapatan (revenue) Boeing terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) AS dan potensi perlambatan pertumbuhan PDB secara keseluruhan.

Pengaruh kecelakaan Boeing terhadap ekonomi AS dapat dilihat dari kontribusi pendapatan perusahaan terhadap PDB, mengingat Boeing adalah salah satu eksportir terbesar dan pemain utama dalam rantai pasokan manufaktur domestik di AS. Data pada Grafik 4 dan Tabel 3 menunjukkan korelasi yang jelas antara peristiwa kecelakaan dan penurunan proporsi pendapatan Boeing terhadap PDB Nominal AS:

Sebelum kecelakaan pertama (Lion Air, Oktober 2018), proporsi pendapatan Boeing terhadap PDB AS berada di tingkat yang cenderung tinggi, puncaknya mencapai 0,53% pada kuartal 12/31/2018. Setelah kecelakaan Lion Air (Oktober 2018) dan disusul kecelakaan Ethiopian Airways (Maret 2019) yang mengakibatkan larangan terbang (grounding) global terhadap 737 MAX, kontribusinya menjadi anjlok tajam.

Penurunan drastis terlihat pada kuartal 6/30/2019 yang turun menjadi 0,29% (turun 0,16 persentase poin dari kuartal sebelumnya). Penurunan ini mencerminkan dampak langsung dari larangan terbang, penghentian pengiriman pesawat, dan kerugian finansial yang signifikan ($2,9 miliar kerugian kuartal kedua 2019, dengan provisi kompensasi $4,9 miliar). 

Pada kuartal 3/31/2019, sesaat setelah kecelakaan kedua dan penghentian pengiriman, pendapatan Boeing turun dari $28.341 Juta USD menjadi $22.917 Juta USD, menyebabkan proporsi PDB juga turun dari 0,53% menjadi 0,45%. Penurunan ini berlanjut, meskipun sempat ada rebound minor, tetapi proporsi tersebut tidak pernah kembali ke level sebelum krisis (di atas 0,47%) sepanjang tahun 2019.

Pasca insiden door plug blowout Alaska Airlines pada Januari 2024, terjadi penurunan proporsi PDB yang berkelanjutan. Dari puncaknya 0,31% pada 12/31/2023, proporsi tersebut terus turun hingga mencapai 0,18% pada kuartal 3/31/2025. Penurunan ini mencerminkan langkah regulator Federal Aviation Administration (FAA) yang kembali melakukan pengawasan ketat dan membatasi tingkat produksi pesawat 737 MAX, yang secara langsung mengurangi revenue Boeing.

Kontribusi Boeing yang anjlok ini memiliki implikasi serius terhadap PDB AS. Dampak pada pertumbuhan PDB tahunan. Analisis oleh ekonom JP Morgan pasca larangan terbang 737 MAX tahun 2019 memprediksi bahwa jika produksi dihentikan untuk waktu yang cukup lama, PDB tahunan AS berpotensi turun hingga 0,6% dari perkiraan, karena penjualan 737 menyumbang sekitar seperempat dari total produksi pesawat domestik (CNBC, 2019).

Anjloknya Revenue dan Kerugian Besar: Larangan terbang 737 MAX pada tahun 2019 menelan biaya langsung bagi Boeing lebih dari $20 miliar dan biaya tidak langsung (kehilangan penjualan) melebihi $60 miliar hingga November 2020. Penurunan besar pada pendapatan ini, dari rata-rata $25 miliar per kuartal di tahun 2018, jelas berdampak pada ekonomi nasional.

 

References

Braga, M. (2025a). Competition over Four Generations of Airliners Past and Future. Sustainable Aviation, 1–33. https://doi.org/10.1007/978-3-031-73993-4_1

Braga, M. (2025b). The Two Boeing 737 Max Accidents and Consequences for Aircraft Certification. Sustainable Aviation, 83–131. https://doi.org/10.1007/978-3-031-73993-4_4

Gillings, M. (2025). A Corpus-Assisted Perspective on Corporate Wrongdoing: The Boeing 737 Max Crisis. International Journal of Business Communication. https://doi.org/10.1177/23294884251339619

Global Economic Data, Indicators, Charts & Forecasts. (2025). Ceicdata.com. https://insights.ceicdata.com/series/511341557_SR206256057

Isidore, C. (2024, February 18). The Alaska Air flight was terrifying. It could have been so much worse. CNN. https://edition.cnn.com/2024/02/18/business/alaska-air-boeing-max-flight

Leggett, T. (2024, January 7). Boeing’s mid-flight blowout a big problem for company. Www.bbc.com. https://www.bbc.com/news/business-67906367

Lion Air JT610 crash: What the preliminary report tells us. (2018, November 28). BBC News. https://www.bbc.com/news/world-asia-46373125

Liptak, K. (2019, March 13). Trump administration grounds Boeing 737 Max planes. CNN. https://edition.cnn.com/2019/03/13/politics/donald-trump-boeing-faa/

Macrotrends. (2023). Boeing Revenue 2006-2019 | BA. Macrotrends.net. https://www.macrotrends.net/stocks/charts/BA/boeing/revenue

McLaughlin, E. C., & Maestro, L. P. (2019, March 10). Law student, scholar and politician’s family among victims in Ethiopian Airlines crash. CNN. https://edition.cnn.com/2019/03/10/africa/ethiopian-airlines-crash-victims/

Osiris. (2025). In Bvdinfo.com. https://osiris-r1.bvdinfo.com/version-20240405-4-0/Report.serv?_CID=44&product=osirisneo

Petchenik, I. (2023, January 5). Ethiopian ET302 final report released, NTSB and BEA issue comments | Flightradar24 Blog. Flightradar24 Blog. https://www.flightradar24.com/blog/aviation-news/aviation-safety/ethiopian-302-final-report/

Reuters Staff. (2019, December 12). Factbox: FAA chief says 737 MAX will not be cleared to fly in 2019. Reuters. https://www.reuters.com/article/business/factbox-faa-chief-says-737-max-will-not-be-cleared-to-fly-in-2019-idUSKBN1YF2DV/

Sahil Singh Jasrotia, Manoj Kumar Kamila, & Sinha, P. (2024a). Boeing: Reclaiming the lost ground? Journal of Information Technology Teaching Cases. https://doi.org/10.1177/20438869241255960

Sahil Singh Jasrotia, Manoj Kumar Kamila, & Sinha, P. (2024b). Boeing: Reclaiming the lost ground? Journal of Information Technology Teaching Cases, 15(2). https://doi.org/10.1177/20438869241255960

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *