PENGARUH WAKTU TIDUR TERHADAP INDEKS PRESTASI SEMESTER SATU

Penulis:                                                                 Penyunting: 
Adyatma Dimitri Widyadhana                                  Adinda Dewi Setiastuti
Gita Laksita Jatismara                                                Atha Bintang Wahyumawardi
Romual Panjohan Simbolon                                      Nawfal Aulia Luthfurrahman                                   

 

Abstrak

Pencapaian Indeks Prestasi Semester (IPS) dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu, baik akademik dan nonakademik, serta kombinasi kegiatan yang merupakan refleksi atas teori pilihan konsumen dengan kendala waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi variabel-variabel aktivitas harian berbasis alokasi waktu perminggu yang mempengaruhi capaian IPS mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UGM Angkatan 2024 dan kombinasi kegiatan terbaik yang diuji ke dalam beberapa model. Desain penelitian ini adalah kuantitatif metode OLS dengan 75 responden melalui kuesioner. Hasil analisis regresi menemukan model 4 (R²=0,330) adalah model terbaik untuk menjelaskan variasi capaian IP semester satu. Hasil temuan kunci menunjukkan waktu tidur dan kegiatan event organisasi berpengaruh signifikan: a) Waktu tidur perminggu ( = 0,0144,  p < 0,01) mengindikasikan semakin lama waktu tidur mahasiswa, semakin baik capaian IPS dan  b) Waktu event organisasi perminggu ( = 0,0996,  p < 0,05) mengindikasikan kegiatan nonakademik berkontribusi positif terhadap capaian IPS. Variabel kegiatan sehari-hari yakni waktu tidur, bermain gawai, dan aktivitas membersihkan rumah tidak berpengaruh signifikan terhadap IPS. Berdasarkan hasil ini, mahasiswa disarankan untuk meningkatkan waktu tidur pada level normal dan keikutsertaan dalam kepanitiaan event, organisasi baik di luar atau dalam kampus sebagai motivasi untuk belajar dan mengatur waktu lebih baik pada level normal karena kedua variabel tersebut memiliki korelasi positif terhadap prestasi paling signifikan.

 

Pendahuluan

1. Latar Belakang

Untuk memahami persoalan mengenai faktor akademik dan nonakademik, perlu dilihat bagaimana keduanya berhubungan. Secara umum, aspek akademik dapat diukur dengan Indeks Prestasi Semester (IPS) dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). IPS adalah ukuran kuantitatif yang digunakan oleh perguruan tinggi untuk menunjukkan pencapaian akademik mahasiswa dalam satu semester (Aris, 2020). Sementara IPK menunjukkan pencapaian akademik mahasiswa secara keseluruhan semester yang telah diambil (Aris, 2020). Pada beberapa universitas, IPS dan IPK mungkin tidak hanya menjadi satu-satunya indeks yang mengukur pencapaian dan kemampuan akademik mahasiswa. Meskipun begitu, IPS dan IPK cenderung dianggap sebagai indeks utama untuk melihat seberapa jauh kemampuan akademik mahasiswa (Rahman et al., 2024). Sebagai contoh, seringkali lowongan pekerjaan dan beasiswa mensyaratkan pelamarnya untuk mencantumkan IPS dan IPK untuk melihat performa akademik calon pelamar. 

IPS dan IPK dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik akademik maupun nonakademik. Faktor akademik, misalnya, ditunjukkan oleh waktu belajar dan banyaknya mata kuliah yang diambil selama satu semester. Salah satu variabel independen yang mempengaruhi IPS dan IPK adalah waktu belajar. Variabel ini berkorelasi positif dengan nilai akademik, semakin banyak waktu belajar, semakin tinggi juga penguasan materi yang terukur dari IPS dan IPK mahasiswa (Liu, 2022). Sementara itu, faktor nonakademik dapat berupa berbagai kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa di luar kelas, seperti partisipasi sebagai panitia, anggota organisasi kampus, bersosialisasi dan lain sebagainya. Keterlibatan pada berbagai kegiatan nonakademik tersebut berdampak pada penurunan alokasi waktu belajar sehingga performa akademik menurun. 

Meskipun begitu, keterlibatan mahasiswa pada kegiatan nonakademik belum tentu berdampak negatif. Bersosialisasi, berpartisipasi pada organisasi kampus, dan berkegiatan lainnya pada organisasi kampus dapat mengembangkan soft skills  yang berguna untuk pengembangan diri dan utamanya karier di masa depan (Kovarik & Warren, 2020). Pasalnya, tidak jarang pengalaman-pengalaman tersebut tidak diajarkan ataupun dilatih di dalam kelas. Oleh karena itu, meskipun kegiatan di luar mata kuliah dapat mengurangi waktu yang dapat digunakan untuk belajar, jika dikelola dengan baik, keterlibatan pada kegiatan tersebut dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi mahasiswa. 

Selain itu, terdapat beberapa teori yang menekankan bahwa waktu tidur mempengaruhi performa seseorang. Dalam hal ini, teori tersebut akan turut berkontribusi pada capaian IPK. Teori tersebut antara lain, energy conservation theory, restorative theory, dan brain plasticity theory menjelaskan tentang pentingnya tidur dalam mengembalikan fungsi tubuh. Energy conservation theory menjelaskan bahwa tidur membuat tubuh lebih efisien dalam penggunaan energi di waktu yang tidak produktif, misalnya malam hari (Joshua et al, 2023). Restorative theory menjelaskan bahwa tidur berfungsi untuk memperbaiki (repair) dan mengisi ulang (replete) komponen seluler yang habis digunakan sepanjang hari saat terjaga (Joshua et al., 2023). Sedangkan, brain plasticity theory menekankan yaitu tidur penting untuk reorganisasi saraf dan perkembangan fungsi otak (Joshua et al., 2023). Dengan demikian, waktu tidur sangat penting dalam rangka menjaga performa akademik.

Dengan mempertimbangkan adanya pengaruh negatif terhadap performa akademik dan positif terhadap pengembangan diri, penting untuk melihat secara mendalam hubungan antara keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan akademik maupun nonakademik yang diukur melalui IPS. Penelitian ini tidak hanya akan menggambarkan pengaruh antara dua jenis aktivitas tersebut dengan prestasi akademik, melainkan juga memahami bagaimana mahasiswa memilih untuk menggunakan waktunya.  

Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas akademik dan nonakademik dapat berdampak pada pencapaian akademik mereka yang diukur melalui IPK. Studi ini menganalisis hubungan antara partisipasi mahasiswa dalam kegiatan akademik dan nonakademik terhadap IPS selama periode semester 1. Melalui desain kuantitatif, studi ini membandingkan pola aktivitas mahasiswa dengan capaian akademik mereka untuk mengenali strategi yang efektif dalam mendukung prestasi akademik dan nonakademik di perguruan tinggi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan praktis bagi mahasiswa dalam menyusun alokasi waktu  yang sesuai untuk studinya. 

 

2. Rumusan Maslah dan Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dikaji, penelitian ini dilandasi oleh dua rumusan masalah utama, yaitu: (1) bagaimana waktu tidur mahasiswa mempengaruhi capaian akademik di semester satu, (2) apa saja variabel yang berpengaruh signifikan terhadap capaian akademik mahasiswa di semester satu  (3) kombinasi variabel-variabel kegiatan terbaik untuk memaksimalkan capaian akademik. Sejalan dengan rumusan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengeksplorasi variabel-variabel yang mempengaruhi performa akademik mahasiswa yang didasarkan oleh alokasi aktivitas waktu dalam satu minggu. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai pengaruh alokasi waktu aktivitas sehari-hari terhadap performa akademik mahasiswa.

 

Tinjauan Pustaka

1. Hubungan waktu belajar dan capaian akademik 

Waktu belajar seringkali diasosiasikan dengan capaian akademik mahasiswa. Variabel ini mengukur durasi yang dihabiskan seseorang untuk kegiatan belajar, baik secara mandiri maupun terstruktur di kelas. Beberapa pihak berasumsi bahwa hubungan antara waktu belajar dan performa akademik bersifat linear. Ini berarti semakin lama belajar, semakin tinggi pula nilai yang diperoleh. Asumsi ini tidak sepenuhnya keliru, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa penelitian. 

Penelitian yang dilakukan oleh Walck-Shannon et al., (2021), yang menggunakan  hierarchical regression menyebutkan bahwa waktu belajar dan persiapan dapat berhubungan positif dengan nilai, tetapi terdapat faktor lain yang juga mempengaruhi nilai. Ini mencakup strategi belajar, study timing (kapan dan konsistensi dalam belajar), serta distraksi.   

Penelitian yang dilakukan oleh Liu (2022) dan Miao (2023), yang menggunakan pendekatan regresi linear, menyebutkan bahwa waktu belajar dapat berpengaruh positif pada performa akademik seseorang. Hal ini berarti penambahan waktu belajar dapat menjadi salah satu metode untuk meningkatkan performa akademik yang tercermin melalui IPS. Meskipun begitu, Liu menyebutkan setelah sampai titik tertentu, pertambahan waktu belajar dengan nilai tidak lagi signifikan.  

Beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan waktu belajar tidak selamanya bernilai positif terhadap nilai. Pada beberapa kasus, hal ini bahkan dapat berdampak negatif. Penelitian yang dilakukan oleh Wu et al., (2023), misalnya, menunjukkan bahwa pembelajaran mandiri tidak selalu berhubungan positif dengan nilai akademik. Penelitian ini menggunakan metode hierarchical linear modeling (HLM) dan  classification and regression tree (CART) analisis.

2. Hubungan waktu tidur dan capaian akademik 

Tidur merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang manusia. Jika seseorang mengalami gangguan tidur atau kekurangan tidur, dia berpotensi merugikan kesehatan dirinya sendiri dan bahkan membahayakan keselamatan masyarakat (Ramar et al., 2021). Dalam dunia perkuliahan, dampak negatif dari kurangnya tidur juga dapat ditemukan. Penelitian yang dilakukan oleh (Creswell, 2023) yang menggunakan pendekatan regresi linear menyebutkan bahwa kurangnya waktu tidur dapat mengurangi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).  

Hal serupa juga disampaikan oleh penelitian yang dilakukan oleh (Kuhn et al., 2025). Penelitian yang juga menggunakan metode regresi linear tersebut menyatakan adanya pengaruh yang signifikan secara linear maupun non-linear antara durasi tidur dan pencapaian akademik. Meskipun begitu, peneliti menyebutkan bahwa hubungan antara waktu tidur dan prestasi akademik tidak sederhana dan satu arah. Tidur yang terlalu sedikit maupun tidur yang terlalu lama sama-sama berkaitan erat dengan penurunan kinerja akademik yang tercermin dari nilai mahasiswa.  

3. Hubungan waktu layar dan pencapaian akademik

Variabel bermain_hp  didefinisikan sebagai banyaknya waktu yang digunakan oleh seseorang untuk menatap layar perangkat elektronik, ini meliputi telepon genggam, komputer personal, dan lain sebagainya. Waktu layar patut untuk diakui, memang dianggap berpengaruh negatif terhadap IPK. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Penelitian yang dilakukan oleh  Sapci et al., (2021) dengan menggunakan  multiple regression analysis menyebutkan bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan untuk menatap layar, semakin kecil pula IPK yang didapat. 

Hasil ini tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh  Gani et al., (2025), yang menggunakan regresi linier berganda, meditation analysis, korelasi pearson menunjukkan bahwa  tingginya waktu layar dapat berdampak negatif pada nilai yang diperoleh seorang mahasiswa. Meskipun begitu, terdapat perbedaan pendekatan pada penelitian ini. Penelitian oleh Sapci et al., (2021) menyebutkan bahwa waktu layar berdampak negatif terhadap IPK secara langsung. Penelitian Gani et al., (2025) menjelaskan bahwa dampak waktu layar tidak sesederhana itu. Ia menyimpulkan bahwa waktu layar memperburuk kualitas tidur, sehingga kualitas tidur yang buruk mempengaruhi IPK.

4. Hubungan Waktu Berorganisasi dengan Capaian Akademik

Partisipasi dalam organisasi mahasiswa menunjukkan hubungan yang bervariasi dengan capaian akademik. Penelitian Santoso (2019) dengan metode regresi linear berganda pada pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Negeri Yogyakarta menunjukkan bahwa keaktifan organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi belajar. Temuan ini didukung oleh gagasan bahwa organisasi dapat meningkatkan kemampuan belajar baik akademik maupun non-akademik. Sejalan dengan itu, Raditya dan Nurani (2023) dengan metode uji regresi berganda menemukan bahwa keaktifan berorganisasi, bersama dengan motivasi dan lingkungan kampus, secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa penerima beasiswa, meskipun secara parsial keaktifan berorganisasi tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Ini mengindikasikan bahwa sementara organisasi sendiri mungkin tidak secara langsung meningkatkan nilai, ia berkontribusi dalam konteks faktor-faktor lain yang mendukung capaian akademik. 

Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa keaktifan organisasi tidak selalu berkorelasi positif dengan peningkatan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Rahman dan Abdullah (2025) menemukan bahwa tidak ada pengaruh signifikan dari keikutsertaan organisasi terhadap indeks prestasi mahasiswa, meskipun mayoritas IPK mahasiswa naik setelah mengikuti organisasi. Hal ini diperkuat dengan hasil uji t (0,113 < t tabel 2,064) dan tingkat signifikansi (0,911 > 0,05), yang menunjukkan bahwa hipotesis nol diterima. Penelitian ini menyarankan bahwa faktor lain seperti motivasi individu, lingkungan belajar, kemampuan pribadi, dan manajemen waktu mungkin lebih berpengaruh terhadap IPK.

5. Teori Pilihan Konsumen (Theory of Consumer Choice) 

Menurut Mankiw (2021), teori pilihan konsumen menjelaskan bagaimana individu mengambil keputusan untuk memaksimalkan kepuasan (utilitas) dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Secara spesifik, teori pilihan konsumen mengkaji bagaimana konsumen yang menghadapi trade-off membuat keputusan atas pilihan yang tersedia dan bagaimana mereka merespons perubahan di lingkungan sekitarnya. Keputusan atas pilihan yang diambil mempertimbangkan dua hal, yakni kendala anggaran dan preferensi konsumen.   

Dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa dihadapkan dengan berbagai macam pilihan untuk menjalani kehidupannya. Dalam teori ini, keputusan yang pada akhirnya diambil adalah kombinasi pilihan yang memberikan kepuasan (utilitas) maksimal. Dalam konteks penelitian ini, proses mahasiswa dalam memutuskan kombinasi pilihan yang memberikan kepuasan maksimal tersebut mempertimbangkan dua hal, yakni keterbatasan waktu (merepresentasikan kendala anggaran) dan preferensi pribadi.

 

Metode Penelitian

1. Desain Penelitian  

Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif. Desain tersebut yang dirancang untuk menganalisis hubungan antara pola tidur mahasiswa, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan nonakademik dan aktivitas sehari-hari terhadap performa akademik yang dicerminkan melalui Indeks Prestasi Semester (IPS) semester satu. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk secara sistematis mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi performa akademik mahasiswa di semester pertama perkuliahan. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk memahami seberapa besar faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap pencapaian akademik, khususnya saat masa transisi dari lingkungan sekolah ke perguruan tinggi.  

Populasi yang menjadi sasaran penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi FEB UGM angkatan 2024. Populasi ini dipilih karena berada pada fase awal studi di perguruan tinggi. Perihal seperti penyesuaian pola hidup, termasuk waktu tidur, menjadi hal krusial yang dapat mempengaruhi performa akademik.

Sampel penelitian diambil menggunakan teknik simple random sampling, yaitu teknik pengambilan sampel individu secara acak dan sederhana di dalam populasi. Pengambilan secara acak tersebut memungkinkan setiap individu memiliki probabilitas yang sama sebagai sampel penelitian (Lind, 2021). Kriteria sampel tersebut mencakup mahasiswa Ilmu Ekonomi angkatan 2024 yang telah menerima hasil IPS semester 1 dan bersedia mengisi kuesioner. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 75 mahasiswa, dengan harapan dapat memberikan representasi populasi secara komprehensif. 

Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui Google Formulir yang disebar kepada seluruh mahasiswa. Metode ini dipilih untuk mempermudah akses dan menjamin fleksibilitas responden dalam mengisi survei. Selain itu, survei disebarkan secara anonim dalam rangka mendorong keterbukaan, kejujuran, dan suasana yang bebas tekanan.

2. Teknik Analisis Data 

Untuk menguji hubungan antarvariabel, metode yang digunakan adalah Ordinary Least Squares (OLS). Teorema Gauss-Markov menyebutkan bahwa OLS merupakan Best Linear Unbiased Estimator (BLUE) apabila asumsi-asumsi klasik regresi linear terpenuhi. Asumsi klasik ini mencakup: model regresi bersifat linear dalam parameter, nilai X tidak berkorelasi dengan error (eksegonitas), var(u) konstan untuk semua X (homoskedastisitas), (Gujarati & Porter, 2009). Ini berarti estimator penaksir tak bias linear dengan varians terkecil. Oleh karena itu, penggunaan OLS dapat dianggap tepat dan efisien dalam memperoleh estimasi hubungan yang valid antara aktivitas mahasiswa dan capaian akademiknya. Meskipun begitu, penting untuk mengakui terdapat limitasi pada metode ini. Seperti misalnya dalam konteks endogenitas. Endogenitas terjadi ketika variabel independen (X) berkorelasi dengan error (u). Keberadaan variabel yang tidak diamati seperti kemampuan dasar yang mempengaruhi, motivasi belajar, tingkat fokus, yang mempengaruhi aktivitas maupun prestasi mahasiswa sehingga menghasilkan estimator yang bias. Selain itu, terdapat juga risiko heteroskedastisitas, yaitu ketika penyebaran error term tidak sama untuk semua mahasiswa. 

3. Deskripsi Data

 

Tabel 1 Hasil Statistik Deskriptif

 

Berdasarkan data yang diperoleh dari 75 responden, diketahui bahwa aktivitas yang paling banyak menyita waktu mahasiswa secara rata-rata adalah tidur perminggu. Pada semester satu, rata-rata mahasiswa Ilmu Ekonomi (IE) tercatat mengalokasikan waktu tidur sebesar 47,16. Dengan asumsi satu minggu terdiri atas tujuh hari, seorang mahasiswa setiap harinya tidur selama 6,73 jam. Angka ini kurang dari jumlah tidur yang direkomendasikan pada laman Kementerian Kesehatan untuk mereka yang berusia 18-40 yaitu 7-8 jam per hari (Kemenkes, n.d.).  Peringkat kedua alokasi waktu terbanyak adalah bermain HP, secara rata-rata mahasiswa IE menghabiskan 33,26 jam per minggu untuk bermain HP.  

Peringkat ketiga diduduki oleh kerja rumah tangga. Kategori ini mencakup kegiatan seperti membersihkan rumah, memasak, dan lain sebagainya. Berdasarkan data yang diperoleh tercatat mahasiswa IE pada semester 1 menghabiskan waktu selama 3,77 jam untuk menyelesaikan tugas yang masuk ke dalam kategori ini. Pada semester satu, mahasiswa Ilmu Ekonomi secara rata-rata hanya mengalokasikan 2,81 jam per minggu untuk kegiatan yang berhubungan dengan organisasi. Jumlah ini sedikit lebih besar dibandingkan dengan waktu yang dialokasikan untuk belajar di luar kelas yang mencapai 2,61 jam. Sementara itu, pada tahun ajaran 2024/2025 mahasiswa Ilmu Ekonomi Angkatan 2024 memiliki rata-rata Indeks Prestasi Semester sebesar 3,41. 

4. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Distribusi variabel belajar_luar_kelas  mendekati normal. Ini dibuktikan oleh p-value uji Shapiro-Wilk sebesar 0,2488 (p > 0,05) (sebagai referensi lihat lampiran 1). Hal ini berarti tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol (distribusi normal). Meskipun demikian, data sedikit condong ke kanan (positively skewed) dengan nilai skewness sebesar 0,22.

Distribusi variabel ip_semester (sebagai referensi lihat lampiran 3) mendekati normal. Ini dibuktikan oleh p-value uji Shapiro-Wilk sebesar 0,1532 (p > 0,05) (sebagai referensi lihat lampiran 3). Hal ini berarti tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol (distribusi normal). Meskipun demikian, data sedikit condong ke kanan (positively skewed) dengan nilai skewness sebesar 0,0917049. 

Distribusi variabel bermain_hp mendekati normal. Hal ini ditunjukkan oleh p-value uji Shapiro-Wilk sebesar 0,0610 (p > 0,05) (sebagai referensi lihat lampiran 3). Maka dari itu, tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol. Distribusi ini juga sedikit condong ke kanan (positively skewed), dengan nilai skewness sebesar 0,298, serupa dengan pola pada variabel belajar_luar_kelas dan

Distribusi variabel ip_semester  mendekati normal. Ini dibuktikan oleh p-value uji Shapiro-Wilk sebesar 0,1202 (p > 0,05) (sebagai referensi lihat lampiran 3). Hal ini berarti tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol (distribusi normal). Meskipun demikian, data sedikit condong ke kanan (positively skewed) dengan nilai skewness sebesar 0,298251.

Distribusi variabel ‘combined_org_event’ mendekati normal. Ini dibuktikan oleh p-value uji Shapiro-Wilk sebesar 0.5111 (p > 0.05) (sebagai referensi lihat lampiran 3). Hal ini berarti tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol (distribusi normal). Meskipun demikian, data sedikit condong ke kiri (negatively skewed) dengan nilai skewness sebesar -0.0076028. 

Distribusi variabel combined_homecare mendekati normal. Ini dibuktikan oleh p-value uji Shapiro-Wilk sebesar 0.6313 (p > 0.05) (sebagai referensi lihat lampiran 3). Hal ini berarti tidak ada cukup bukti untuk menolak hipotesis nol (distribusi normal). Meskipun demikian, data sedikit condong ke kiri (negatively skewed) dengan nilai skewness sebesar -0.0023709.

b. Uji Multikolinearitas 

Pada lampiran 2, semua variabel yang digunakan mendapatkan nilai VIF (Variance Inflating Factor) < 10, sehingga setiap variabel tidak memiliki hubungan antarvariabel prediktor.

c. Uji Heteroskedastisitas

Tabel 2 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Hasil uji heteroskedastisitas dilakukan dengan menghitung rasio df regression dan df residuals kemudian membandingkannya dengan significance level (0,05). Hasil model 1 bernilai 0,0243; model 2 bernilai 0,05; model 3 bernilai 0,0769; dan model 4 bernilai 0,135. Berdasarkan penghitungan tersebut, model 1 dan 2 bernilai kurang dari 0,05. Hal tersebut berarti terdeteksi terjadi heteroskedastisitas atau varians error (residual) bersifat berubah-ubah terhadap variabel independen. Sedangkan, model 3 dan 4 bernilai lebih dari 0,05 yang berarti tidak terdeteksi terjadi heteroskedastisitas (homoskedastisitas). 

Hasil Temuan dan Pembahasan

Tabel 3 Hasil Uji Regresi

Berdasarkan beberapa pengujian, diperoleh empat model yang dapat digunakan dalam menjelaskan variasi di dalam performa akademik mahasiswa yang dicerminkan melalui variabel indeks prestasi (IP) semester satu. Di seluruh model, variabel waktu tidur perminggu ‘’ memiliki konsistensi yakni selalu bernilai positif dan signifikan pada level 1%. Hal tersebut berarti, indeks prestasi (IP) semester satu akan meningkat seiring waktu tidur mahasiswa bertambah. Temuan ini memvalidasi hipotesis awal bahwa waktu tidur perminggu mempengaruhi performa akademik mahasiswa di semester satu. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Creswell et al. (2023) yang menemukan bahwa durasi tidur malam merupakan faktor penting penentu keberhasilan akademik di tahun pertama perkuliahan. Secara lebih detail, penelitian tersebut menemukan bahwa IPK mahasiswa turun sebesar 0,07 seiring dengan hilangnya rata-rata jam tidur malam. 

Selain waktu tidur perminggu, ditemukan variabel lain yang signifikan dalam menjelaskan variasi IP mahasiswa semester satu. Variabel tersebut adalah  atau partisipasi mahasiswa dalam event. Secara lebih spesifik, signifikansi variabel partisipasi event dapat digolongkan cukup signifikan pada level 5%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Strapp et al. (2009) yang menemukan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kampus mempengaruhi kepuasan dan IPK mahasiswa. 

Di dalam pengujian beberapa model tersebut, terdapat variabel yang selalu konsisten bernilai negatif dan tidak signifikan. Variabel tersebut adalah ‘’. Di model kedua dan ketiga, variabel ini konsisten bernilai -0,0005 dengan standard error 0,002. Artinya waktu bermain berhubungan negatif dengan capaian IP semester satu namun tidak signifikan pengaruhnya. Semakin lama bermain handphone, IP cenderung bernilai turun, namun penurunan ini terhitung tidak signifikan. Di samping itu, variabel ‘’ turut menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap IP semester satu dengan nilai koefisien -0,0143 dan standar error 0,024. Hal tersebut berarti, IP akan menurun saat mahasiswa melakukan aktivitas membersihkan rumah, namun tidak signifikan.

Di samping variabel yang selalu bernilai konsisten terdapat variabel yang tidak konsisten saat diuji ke dalam beberapa model. Variabel tersebut adalah ‘’. Variabel ini memiliki nilai negatif saat diuji ke dalam model 1, 2, dan 4. Namun, bernilai positif saat diuji ke dalam model 3. Selain itu, variabel ini selalu tidak signifikan saat diuji di seluruh model. Artinya, waktu belajar mahasiswa di luar kelas tidak dapat menjelaskan variasi dalam performa akademik mahasiswa di semester satu. 

Model Terbaik 

Tabel 4. Ringkasan model R-Squared, Adj-R Squared, dan jumlah variabel independen

Berdasarkan hasil analisis terhadap keempat model dengan variabel-variabel berbeda yang memengaruhi IP semester mahasiswa, pemilihan model terbaik ditentukan oleh nilai R-Squared. Ini berarti model dengan nilai R-Squared tertinggi adalah model yang paling baik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa model terbaik adalah model keempat. Model ini menunjukkan nilai R-Squared sebesar 0.330. Angka ini menunjukkan bahwa model keempat mampu menjelaskan 33% variasi dalam IP semester pertama mahasiswa IE. Sebagai informasi tambahan, pada model ini terdapat dua variabel yang signifikan, yaitu waktu tidur perminggu dan combined_org_event

Sesuai dengan teori pilihan konsumen, model 4 merupakan kombinasi terbaik yang dapat dipilih. Dengan variabel ‘waktu_tidur’ dan ‘combined_org_event’  sebagai variabel yang paling berpengaruh positif terhadap IPS. Oleh karena itu, untuk meningkatkan utilitas dari pencapaian IPS, mahasiswa Ilmu Ekonomi 2024 sebaiknya meningkatkan waktu tidur pada level normal dan keikutsertaan dalam kepanitiaan event, organisasi baik di luar atau dalam kampus sebagai motivasi untuk belajar dan mengatur waktu lebih baik pada level normal.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi variabel-variabel yang mempengaruhi performa akademik mahasiswa yang diukur melalui capaian indeks prestasi (IP) mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB UGM angkatan 2024. Variabel yang dieksplorasi dibatasi pada aktivitas mahasiswa berdasarkan alokasi waktu satu minggu, seluruhnya diukur dalam satuan jam. Pendekatan ini memiliki maksud untuk memahami bagaimana alokasi waktu selama satu minggu dapat memengaruhi capaian akademik mahasiswa. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi waktu tidur, kegiataan kepanitiaan event, dan organisasi memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap capaian IP semester satu. Temuan ini mendukung hipotesis awal penelitian bahwa kualitas tidur yang dicerminkan melalui waktu tidur perminggu merupakan faktor penting dalam mendukung performa akademik. Selain itu, dengan menguji beberapa kombinasi variabel menjadi empat model, model 4 terbukti sebagai model terbaik dalam menjelaskan variasi capaian IP semester satu. Oleh karena itu, mahasiswa Ilmu Ekonomi 2024 sebaiknya meningkatkan waktu tidur pada level normal dan keikutsertaan dalam kepanitiaan event, organisasi baik di luar atau dalam kampus sebagai motivasi untuk belajar dan mengatur waktu lebih baik pada level normal.

2. Rekomendasi

Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini merekomendasikan agar studi selanjutnya memperluas eksplorasi variabel, tidak hanya terbatas pada faktor berbasis waktu (jam). Variabel yang dapat dieksplorasi dapat mencakup faktor-faktor lain seperti sisi psikologis, ekonomi, dan sosial. Dengan memperkaya dimensi variabel, diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang lebih kuat dan relevan dalam menjelaskan variasi capaian IP mahasiswa terkhusus di semester awal perkuliahan.

Daftar Pustaka

Aris, J. (2020). Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi di Era Industri 4.0 untuk  mendukung Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

https://repositori.kemendikdasmen.go.id/22628/1/PANDUAN-PENYUSUNAN-9-Okt-2020-PDF-1.pdf

Creswell, J. D. (2023). Nightly sleep duration predicts grade point average in the first year of college. Proceedings of the National Academy of Sciences, 120(8).

https://doi.org/10.1073/pnas.2209123120

Gani, D. N., Ijaz, H., Arooje, K., Usman, B., & Baig, I. (2025). The Role of Sleep Quality in Academic Performance: A Multivariate Analysis of Stress, Screen Time, and Physical Activity. South Eastern European Journal of Public Health, 26, 282–295.

https://doi.org/10.70135/seejph.vi.6179

Gujarati, D. N., & Porter, D. C. (2009). Basic Econometrics (5th ed.). Mcgraw-Hill/Irwin.

Kemenkes. (n.d.). Lama Waktu Tidur yang Dibutuhkan oleh Tubuh. upk.kemkes.go.id.

https://upk.kemkes.go.id/new/lama-waktu-tidur-yang-dibutuhkan-oleh-tubuh

Kovarik, A., & Warren, G. (2020). Improved Soft Skill and University Club Involvement. Are They Connected? Journal of Business, 5(1), 01–06. h

ttps://doi.org/10.18533/job.v5i1.131

Kuhn, T., Heisz, J. J., & Middleton, L. E. (2025). The impact of sleep, mental health, and gender on academic performance in Canadian university students. Frontiers in Education, 10.

https://doi.org/10.3389/feduc.2025.1565920 

Lind, D. A., Marchal, W. G., & Wathen, S. A. (2021). Statistical Techniques in Business & Economics. McGraw-Hill Education.

Liu, M. (2022). The Relationship between Students’ Study Time and Academic Performance and its Practical Significance . BCP Education & Psychology, 7.

https://doi.org/10.54691/bcpep.v7i.2696

Mankiw, G. (2024). Principles of Economics (10th ed.). Cengage Learning.

Miao, Y. (2023). Study of the Association between Study Time and Final Grades . Journal of Education, Humanities and Social Sciences, 7.

Raditya, G. B., & Nurani, N. (2023). Bagaimana Keaktifan Berorganisasi Mahasiswa Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Pasca Pandemi Covid-19. Jurnal Penelitian Pendidikan, 23(1), 37–55.

https://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/view/56537/22448

Rahman, F., Putra, E., & Ningsih, E. Y. (2024). Kecerdasan Emosi dan Resiliensi Akademik Sebagai Prediktor Prestasi Akademik Mahasiswa. G-Couns: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 9(2), 820–834.

https://doi.org/10.31316/g-couns.v9i2.6859

Ramar, K., et all. (2021). Sleep is essential to health: An american academy of sleep medicine position statement. Journal of Clinical Sleep Medicine, 17(10), 2115–2119.

https://doi.org/10.5664/jcsm.9476

Sapci, O., Elhai, J. D., Amialchuk, A., & Montag, C. (2021). The relationship between smartphone use and students` academic performance. Learning and Individual Differences, 89(89), 102035.

https://doi.org/10.1016/j.lindif.2021.102035

Santoso, I. B. (2019). Pengaruh Keaktifan Organisasi dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi belajar Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta Periode 2019-2020. Jurnal Ilmu Managemen .

https://journal.uny.ac.id/index.php/jim/article/view/34768/14330

Strapp, C. M., & Farr, R. J. (2009). To Get Involved or Not: The Relation among Extracurricular Involvement, Satisfaction, and Academic Achievement. Teaching of Psychology, 37(1), 50–54.

https://doi.org/10.1080/00986280903425870

Walck-Shannon, E. M., Rowell, S. F., & Frey, R. F. (2021). To what extent do study habits relate to performance? CBE—Life Sciences Education, 20(1).

https://doi.org/10.1187/cbe.20-05-0091

Wu, X., Wu, R., Hanley, C., Liu, H., & Liu, J. (2023). How to better balance academic achievement and learning anxiety from time on homework? A multilevel and classification and regression tree analyses. Frontiers in Pyschology, 14.

https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1130274

Joshua E. Brinkman; Vamsi Reddy; Sandeep Sharma. (2023). Physiology of Sleep. StatPearls Publishing LLC.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482512/ 

 

Daftar Lampiran

Lampiran 1 Tabel Statistik Deskriptif

Lampiran 2 Tabel VIF

Lampiran 3 Uji Asumsi OLS Normalitas

Uji Shapiro-Wilk Variabel belajar_luar_kelas

Lampiran 4 Uji Asumsi OLS Multikolinearitas (Matriks Korelasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *