Subsidi BBM sejak lama dirancang untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap bisa membeli energi dengan harga terjangkau. Namun kenyataannya, sebagian besar subsidi justru lebih banyak dinikmati oleh kelompok menengah hingga atas yang memiliki kendaraan lebih banyak dan konsumsi energi yang jauh lebih tinggi.
Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa 80% subsidi Pertalite dinikmati rumah tangga mampu, dan hanya 20% yang benar-benar diterima oleh kelompok miskin atau rentan. Situasi serupa terjadi pada Solar bersubsidi, di mana 95% porsi rumah tangga justru dinikmati oleh kelompok mampu. Ketimpangan ini menimbulkan beban fiskal besar dan mendorong penggunaan energi fosil yang berlebihan.
Melalui visualisasi data dan ringkasan analisis kebijakan, TEKO ini mengulas bagaimana salah sasaran subsidi BBM terjadi, dampaknya terhadap anggaran negara dan lingkungan, serta kenapa reformasi subsidi menjadi semakin mendesak.
