Deindustrialisasi Dini dan Turunnya Kelas Menengah di Indonesia

Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi  Indonesia dengan rata-rata sekitar 5% (BPS, 2025). Data yang sama menunjukkan bahwa di paruh kedua tahun 2025, pertumbuhan mencapai angka 5,12%. Salah satu penopangnya adalah konsumsi rumah tangga dengan pertumbuhan tahunan 4,97%. Angka ini banyak didapatkan dari kelas menengah dibantu menuju kelas menengah yang nilai konsumsi pengeluaran mereka mencapai 81,49% dari total konsumsi masyarakat (BPS, 2024). 

Masyarakat kelas menengah memegang peran penting dalam perekonomian. Konsumsi mereka mendorong aktivitas ekonomi dan memengaruhi pertumbuhan nasional. Menurut Bank Dunia (2020), konsumsi kelas menengah tumbuh 12% per tahun sejak 2002 dan kini mewakili setengah dari seluruh konsumsi rumah tangga di Indonesia. Angka itu menunjukkan bahwa kesejahteraan kelas menengah sangat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Di sisi lain, sektor industri manufaktur sebagai penyedia kerja kelas menengah mengalami penurunan, Indeks Manufaktur PMI Indonesia S&P Global turun menjadi 46,9 pada Juni 2025 dari 47,4 pada bulan sebelumnya, menandai kontraksi tiga bulan berturut-turut (Husna, 2025). Kondisi ini menunjukkan ketidakmampuan sektor manufaktur untuk menggerakkan perubahan ekonomi. Gejala ini menandakan bahwa Indonesia mulai mengalami deindustrialisasi dini. Deindustrialisasi dini akan menimbulkan berbagai masalah serius, salah satunya ialah berkurangnya lapangan kerja formal produktif. Jika fenomena ini terus berlanjut, peningkatan pertumbuhan ekonomi akan sulit dicapai.

Menurut Bank Dunia (2021), industri manufaktur penting sebagai motor pencipta kelas menengah karena mampu menyerap banyak pekerja sekaligus menawarkan gaji besar. Jika deindustrialisasi terus berlanjut, kesempatan kerja produktif menjadi terbatas. Dengan demikian, angka pengangguran meningkat sehingga daya beli rumah tangga akan menurun sebagai akibat dari penurunan pendapatan (Dinas Perdagangan Kota Palembang, 2024). Peristiwa ini mengkhawatirkan sebab jumlah kelas menengah, penopang sebagian besar perekonomian, terus menurun dari tahun ke tahun, diketahui sejak 2019 hingga 2024 sebanyak 9,48 juta orang turun kelas (BPS, 2024).

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui hubungan antara menurunnya kelas menengah dan deindustrialisasi dini di Indonesia. Jika kelas menengah terus menurun karena adanya deindustrialisasi dini, maka ekonomi Indonesia akan berpotensi lesu. Perlu strategi-strategi efektif untuk menghambat laju penurunan kelas menengah akibat deindustrialisasi dini dengan kajian mendalam.

 

Isi

Deindustrialisasi Dini

Fenomena deindustrialisasi dini di Indonesia semakin nyata terlihat dari menurunnya kontribusi industri manufaktur terhadap PDB sebelum negara mencapai status berpendapatan tinggi. Berdasarkan data BPS (2024), kontribusi industri manufaktur terhadap PDB turun dari 21,26% pada 2014 menjadi 19,13% pada kuartal IV-2024. Tren ini mengindikasikan adanya gejala deindustrialisasi dini yang ditandai dengan menurunnya peran sektor manufaktur sebagai penyedia lapangan kerja formal dan penggerak utama transformasi ekonomi. Kondisi tersebut menghambat proses perpindahan pekerja dari sektor nilai tambah kecil, menuju sektor dengan nilai tambah lebih besar. Akibatnya, peluang peningkatan produktivitas nasional berkurang dan pertumbuhan pendapatan per kapita menjadi kurang optimal.

Sumber: BPS, 2024

Dalam perspektif teori ekonomi pembangunan, industrialisasi dipandang sebagai salah satu pilar utama dalam menciptakan pertumbuhan jangka panjang. Lewis (1954) melalui Dual Sector Model menjelaskan bahwa perekonomian negara berkembang terdiri dari dua sektor utama, yakni sektor tradisional dengan nilai tambah kecil (seperti pertanian subsisten) dan sektor modern dengan nilai tambah lebih besar (seperti industri manufaktur). Teori ini menyatakan bahwa industrialisasi berperan penting dalam menyerap surplus tenaga kerja dari sektor tradisional menuju sektor modern, sehingga produktivitas rata-rata tenaga kerja meningkat dan pendapatan nasional naik. Perpindahan tenaga kerja ini menciptakan konsep “transformasi struktural”, yakni pergeseran perekonomian dari sektor primer menuju basis industri yang lebih produktif. Berbagai studi pembangunan menunjukkan bahwa industrialisasi yang masif mampu menurunkan angka kemiskinan dan memperluas kelas menengah secara signifikan. Sebaliknya, ketika industrialisasi berhenti terlalu cepat atau deindustrialisasi dini, maka rantai pembangunan akan terputus sehingga lapangan kerja menurun, daya beli melemah, dan pembentukan kelas menengah menjadi terhambat. Hal ini berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi dan memperbesar risiko stagnasi pembangunan.

Kelas Menengah di Indonesia
BPS (2024) mengidentifikasi kelas masyarakat berdasarkan konsumsi per kapita per bulan untuk memetakan kesejahteraan. Terdapat lima lapisan: miskin, rentan miskin, menuju kelas menengah, kelas menengah, dan kelas atas. Dari pengelompokkan itu, kelompok menuju kelas menengah dan kelas menengah mendominasi, yaitu 66,35% penduduk pada 2024. Mengacu pada metode Bank Dunia yang diadopsi BPS, kelas menengah adalah rumah tangga dengan pengeluaran 3,5–17 kali garis kemiskinan per kapita per bulan. Pada Maret 2025, garis kemiskinan Indonesia ialah Rp609.160, sehingga pengeluaran kelas menengah sekitar Rp2.132.060–Rp10.355.720 per kapita per bulan.

Di Indonesia, kontribusi kelas menengah terhadap perekonomian nasional sangat besar. Berdasarkan data BPS (2024), konsumsi rumah tangga agregat menyumbang sekitar 54,25% dari PDB Indonesia, dan sekitar 81,49% dari total konsumsi masyarakat berasal dari kelas menengah dan menuju kelas menengah. Data tersebut menunjukkan pentingnya daya beli kelas menengah dalam menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

 

Sumber: Nugroho, Wisnu. S (2025). Menurunnya Kelas Menengah: Isu Kualitas Pekerjaan dan Manufaktur yang  Terfragmentasi. Universitas Gadjah Mada. Departemen Ilmu Ekonomi  

Teori konsumsi Keynesian dalam buku The General Theory of Employment, Interest and Money karya John Maynard Keynes (1936) menyatakan bahwa dalam konteks makro, total konsumsi masyarakat (consumption aggregate) dipengaruhi oleh pendapatan nasional. Total konsumsi masyarakat menjadi poin penting dalam pembentukan permintaan agregat sehingga menentukan pertumbuhan ekonomi. Teori ini menjadi dasar bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, perlu menciptakan permintaan agregat yang selanjutnya mendorong produksi, investasi, dan penciptaan lapangan kerja. Maka dari itu, konsumsi kelas menengah harusnya menjadi penyokong utama ekonomi Indonesia.
Namun, kelas menengah di Indonesia rentan turun ke kelompok rentan atau miskin. Kenaikan harga kebutuhan pokok, PHK, atau krisis ekonomi dapat dengan cepat melemahkan kelas menengah untuk mempertahankan standar hidup (Noerhidajati et al., 2020). Dalam lima tahun terakhir, data menunjukkan tren penyusutan kelas menengah, jumlah penduduk kelas menengah diperkirakan mencapai 47,85 juta orang, setara 17,13% dari total penduduk Indonesia (BPS, 2024). Angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 21,45%. Penurunan ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang bisa menjaga penghasilan dan daya beli kelas menengah agar tetap bertahan.

Dampak Deindustrialisasi Dini terhadap Menyusutnya Kelas Menengah di Indonesia
Menurut Bank Dunia (2024), persentase manufaktur terhadap pendapatan nasional mengalami penurunan setelah 2003, artinya proses ini telah lama terjadi. Salah satu penyebab fenomena deindustrialisasi dini di Indonesia adalah “Commodity Boom 2000s”. Meledaknya harga komoditas berimplikasi pada peningkatan jumlah investasi ke sektor ekstraktif atau barang-barang komoditas lebih banyak dari sektor manufaktur (Prassetya, R. , 2022). Di sisi lain, pasca reformasi, persoalan birokrasi di Indonesia masih belum selesai yang mengakibatkan “High Cost Economy”   (Taufik, A. I., & Dewi, R. I. , 2020).


Sumber: Bank Dunia, 2024

Dikarenakan sektor manufaktur yang paling banyak menyerap tenaga kerja mengalami penurunan ditambah dengan fenomena “High Cost Economy”  berimplikasi pada pendapatan agregat Indonesia. Pada data di bawah terlihat bahwa terjadi penurunan upah riil di semua sektor dengan membandingkan upah 2019 dan 2024. Data Bank Dunia (2024) juga menunjukkan bahwa konsumsi agregat Indonesia mengalami penurunan. Menurut John Maynard Keynes dalam “General Theory of Employment, Interest, and Money”, penurunan pendapatan akan menyebabkan penurunan konsumsi yang akan menurunkan penyediaan lapangan tenaga kerja yang implikasinya adalah menurunnya produktivitas secara agregat. Ini membuktikan bahwa penurunan pendapatan berimplikasi pada penurunan konsumsi agregat. Kondisi di mana terjadi penurunan produktivitas menyebabkan terjadinya penurunan persentase kelas menengah (Takehisa, Shinozaki,  & Yoko, Takahashi., 2023). 


Sumber: A. Anshory, Yusuf, 2024


Sumber: Bank Dunia, 2024

 

Rekomendasi

Indonesia perlu melaksanakan kebijakan yang tepat agar pertumbuhan kelas menengah dapat berlanjut. Salah satu kunci dari upaya tersebut adalah bagaimana Indonesia mampu menarik FDI berorientasi pada penciptaan lapangan kerja produktif. Indonesia masih menghadapi hambatan besar dalam menarik FDI berkualitas sehingga arus investasi yang masuk belum sepenuhnya mendorong penciptaan pekerjaan kelas menengah (Goh., 2024). Hal ini membuat integrasi ke Global Value Chains (GVC) berjalan lambat, sehingga penciptaan lapangan kerja formal belum optimal. Sebaliknya, Vietnam menjadi contoh bagaimana FDI dapat diarahkan untuk memperkuat sektor manufaktur. Dilansir dari Bank Dunia (2020), Vietnam berhasil menarik FDI besar-besaran di sektor elektronik yang tumbuh rata-rata 21,2% per tahun. Jika Indonesia memperkuat reformasi regulasi FDI, maka sektor manufaktur dapat kembali menjadi motor penciptaan lapangan kerja kelas menengah.

Strategi berbasis FDI dan manufaktur saja tidak cukup karena Indonesia masih menghadapi masalah keterampilan tenaga kerja. Menurut Bank Dunia (2021), hanya 40,6% pemuda menyelesaikan pendidikan menengah atas, yang membatasi akses ke pekerjaan formal produktif. Sejalan dengan itu, BPS (2023) mencatat lebih dari 57% pekerja masih bergantung pada Household Enterprises (HHEs) dan sektor informal, sehingga tanpa reskilling dan upskilling cepat, sekitar 124 juta pekerja berisiko tertinggal. Benchmark Vietnam menunjukkan pentingnya reformasi pendidikan vokasi melalui Program TVET Reform 2016–2020 yang melibatkan sektor swasta dalam kurikulum dan menerapkan dual training system. Hasilnya, partisipasi tenaga kerja muda dalam pelatihan vokasi naik 15% dan perusahaan multinasional elektronik lebih percaya pada lulusan lokal (ILO, 2020). Jika diterapkan di Indonesia, kebijakan ini berpotensi menutup skills gap sekaligus meningkatkan produktivitas agregat tenaga kerja.

Pada saat yang sama, isu kesetaraan dalam dunia kerja juga menjadi perhatian penting. Data dari BPS (2023) menunjukkan bahwa wanita lebih banyak bekerja di sektor pekerjaan informal, sementara pria menghadapi kesenjangan upah akibat minimnya pengalaman kerja. Hal ini menuntut hadirnya kebijakan afirmatif berupa pelatihan khusus wanita dan pria. Thailand bisa dijadikan preseden dalam hal ini. Melalui Skill Development Promotion Act dan program Women in STEM, pemerintah Thailand memperluas akses perempuan dan pemuda terhadap kursus keterampilan digital dan teknologi, serta memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang melatih karyawan perempuan (BIS Papers No.142, 2023). Hasilnya, kesenjangan upah berbasis gender mulai menyempit, dan partisipasi tenaga kerja perempuan di sektor formal meningkat. Jika diadopsi di Indonesia, kebijakan serupa dapat memperkuat posisi wanita dan pria di pasar kerja, sehingga memperluas basis tenaga kerja kelas menengah.

Kesimpulan

Analisis dengan mengimplikasi yang ada di Indonesia adalah dengan mensintesiskan hasil temuan ini, di mana deindustrialisasi dini dibersamai oleh “High Cost Economy”, dan di sisi lain terjadi  penurunan upah rill agregat. Kondisi ini menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas dan konsumsi agregat yang berimplikasi pada penurunan persentase kelas menengah. Jadi, disimpulkan bahwa deindustrialisasi dini menjadi salah satu penyebab penurunan kelas menengah di Indonesia.

Referensi

Nakamura, E., Steinsson, J., & Liu, L. (2023). Are financial crises redistributive? Evidence from the 2008–2009 crisis (NBER Working Paper No. 31721). National Bureau of Economic Research. https://www.nber.org/system/files/working_papers/w31721/w31721.pdf

Axelsson, T., & Martins, I. (2023). Resilience to shrinking as a catch-up strategy: A comparison of Brazil and Indonesia, 1964–2019. Studies in Comparative International Development, 59(4), 491–516. https://doi.org/10.1007/s12116-023-09392-1

World Bank. (2021). Assessment of the technical and economic potential of offshore wind in Vietnam: Technical report. World Bank Group. https://documents1.worldbank.org/curated/en/891451624897518888/pdf/Technical-Report.pdf

 

Yudi, A. (2025). Indonesia’s household consumption grows 4.97% annually in Q2 2025, says BPS. https://en.tempo.co/read/2036315/indonesias-household-consumption-grows-4-97-annually-in-q2-2025-says-bps

Hadiyanto, A. (2018). Peranan UKM dalam perekonomian Indonesia. Universitas Negeri Semarang. https://d1wqtxts1xzle7.cloudfront.net/55904373/890-1901-1-SM-libre.pdf

Antara News. (2025). Sektor manufaktur serap tenaga kerja paling banyak, kata PCO. https://www.antaranews.com/berita/5069145/sektor-manufaktur-serap-tenaga-kerja-paling-banyak-kata-pco

Prassetya, R. (2022). Commodity booms and busts and investment inefficiency. [Manuscript].

Meilia, S. (2025). Demographic bonus to support economic growth in Indonesia. Eduvest: Journal of Universal Studies, 5(2), 1856–1863.

Lubis, P. S. I., & Salsabila, R. (2024). Peran UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dalam meningkatkan pembangunan ekonomi di Indonesia. Muqaddimah: Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi dan Bisnis, 2(2), 91–110.

Taufik, M. R., & Widiana, I. N. W. (2025). An analysis of the factors affecting deindustrialization in four countries. International Journal of Society Reviews, 2(10), 1668–1687.

Bah, E. H. Y., & Fang, L. (2024). Industrialization and structural transformation in Sub-Saharan Africa. Journal of Economic Policy Reform, 27(5), 678–698. https://doi.org/10.1080/2329194X.2024.2397896

Sinaga, S. O., & Prasetyo, P. E. (2025). Pengaruh pendapatan perkapita, nilai tukar, tarif impor dan investasi terhadap deindustrialisasi prematur di Indonesia tahun 1990–2023. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi, 8(3), 1269–1280.

 

Badan Pusat Statistik Indonesia. (2025). Ekonomi Indonesia Triwulan II-2025 tumbuh 4,04 persen (Q-to-Q); 5,12 persen (Y-on-Y); Semester I-2025 tumbuh 4,99 persen (C-to-C). https://www.bps.go.id

World Bank. (2020). Aspiring Indonesia: Expanding the middle class. https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/aspiring-indonesia-expanding-the-middle-class

Husna, F. (2025). Indonesia manufacturing PMI. Trading Economics. https://id.tradingeconomics.com/indonesia/manufacturing-pmi/news/466729

Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung. (2024). Kelas menengah di Indonesia sulit kaya namun rentan miskin. https://bandungkab.bps.go.id/id/news/2024/09/17/110/kelas-menengah-di-indonesia-sulit-kaya-namun-rentan-miskin-.html

World Bank. (2021). Pathways to middle-class jobs in Indonesia. https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/pathways-to-middle-class-jobs-in-indonesia

Badan Pusat Statistik Indonesia. (2025). Kelas menengah Indonesia krusial sebagai bantalan ekonomi nasional. https://www.bps.go.id/id/news/2024/10/25/622/kelas-menengah-indonesia-krusial-sebagai-bantalan-ekonomi-nasional.html

Dinas Perdagangan Palembang. (2024). 7 faktor penurunan daya beli masyarakat. https://perdagangan.palembang.go.id/berita/7-faktor-penurunan-daya-beli-masyarakat

 

Badan Pusat Statistik. (2025). Garis kemiskinan (rupiah/kapita/bulan) menurut provinsi dan daerah. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTk1IzI=/garis-kemiskinan-rupiah-kapita-bulan-menurut-provinsi-dan-daerah-.html

Badan Pusat Statistik. (2025). Tingkat kemiskinan kembali menurun. https://www.bps.go.id/id/news/2025/07/25/731/tingkat-kemiskinan-kembali-menurun.html

Badan Pusat Statistik. (2025). Memahami perbedaan angka kemiskinan versi Bank Dunia dan BPS. https://www.bps.go.id/id/news/2025/05/02/702/memahami-perbedaan-angka-kemiskinan-versi-bank-dunia-dan-bps.html

Badan Pusat Statistik. (2024). Kelas menengah Indonesia krusial sebagai bantalan ekonomi nasional. https://www.bps.go.id/id/news/2024/10/25/622/kelas-menengah-indonesia-krusial-sebagai-bantalan-ekonomi-nasional.html

Tempo. (2024). Membedah penurunan kelas menengah di Indonesia. https://www.tempo.co/data/data/membedah-penurunan-kelas-menengah-di-indonesia-991156

Noerhidajati, S., Purwoko, A. B., Werdaningtyas, H., Kamil, A. I., & Dartanto, T. (2021). Household financial vulnerability in Indonesia: Measurement and determinants. Economic Modelling, 96, 433–444. https://doi.org/10.1016/j.econmod.2020.04.019

Keynes, J. M. (1936). The general theory of employment, interest and money. Macmillan.

 

Revo, M. (2025). Manufaktur RI hanya tumbuh 4%, yakin ekonomi bisa terbang? CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/research/20250206143806-128-608527/manufaktur-ri-hanya-tumbuh-4-yakin-ekonomi-bisa-terbang

Hubbansyah, A. K., Aritonang, D., Lailiyah, N., & Utami, R. (2023). Analisis empiris atas teori dualistik ekonomi Lewis: Studi kasus Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan, 12(1), 1–22. https://journal.ipb.ac.id/jekp/article/view/46854/25985

World Bank. (2020). Aspirasi Indonesia: Memperluas kelas menengah. https://www.worldbank.org/in/country/indonesia/publication/aspiring-indonesia-expanding-the-middle-class

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *