Disusun oleh Apsara Rajendra Unasy

TikTok Shop, fitur belanja daring dalam aplikasi TikTok yang diluncurkan pada April 2021, dengan cepat muncul sebagai salah satu pemain utama dalam ranah social commerce. Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mendapatkan akses pada fitur ini (Pratiwi et al., 2023), dan sejak itu penggunaannya meningkat secara signifikan. Berdasarkan laporan dari Business of Apps (2025), TikTok meraih pendapatan sebesar 23 miliar dolar AS, naik 42,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menandai pergeseran penting dalam ranah e-commerce global, di mana platform berbasis konten kini memiliki daya saing yang kuat dalam mendorong transaksi secara daring. Melalui live streaming dan video pendek, mereka menyajikan promosi secara interaktif, seperti menjawab pertanyaan penonton, mendemonstrasikan produk secara real time, dan membangun kedekatan emosional sehingga membuat konsumen ingin membeli barang tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Wulandari, Azra, dan Buana (2025) yang menemukan bahwa interaksi langsung antara influencer dan penonton selama siaran langsung TikTok berpengaruh positif terhadap niat beli konsumen. Selain itu, studi oleh Jesika Influencer memegang peran sentral dalam membentuk pola konsumsi di TikTok Shop. Jesika (2025) tentang produk pakaian menemukan bahwa semakin baik kualitas dan kreativitas promosi live streaming, maka semakin tinggi keinginan membeli konsumen. Dengan demikian, kombinasi kedekatan emosional, demonstrasi produk, dan respons interaktif selama live streaming oleh influencer terbukti efektif dalam mendorong keputusan pembelian di TikTok Shop.
Tanpa fitur-fitur unggulan TikTok Shop, influencer tidak mungkin berjalan sendiri. Dalam live streaming, mereka memanfaatkan tiga pemicu utama: stok terbatas, hitung mundur waktu, dan diskon. Fitur hitung mundur juga berpengaruh. Tanpa fitur-fitur unggulan TikTok Shop, influencer tidak mungkin berjalan sendiri. Dalam live streaming, mereka memanfaatkan tiga pemicu utama: stok terbatas, hitung mundur waktu, dan diskon. Fitur hitung mundur juga berpengaruh, namun ketika dikombinasikan dengan pesan kelangkaan stok, efek tambahannya tidak selalu lebih kuat daripada efek kelangkaan stok itu sendiri (Lutviari & Pradana, 2025). Diskon juga menjadi fitur unggulan di TikTok Shop. Diskon biasanya berbentuk voucher yang bisa digunakan saat hendak membeli barang, dan juga muncul langsung di “keranjang kuning” sebagai etalase toko. Penelitian Azzahra et al. (2024) membuktikan bahwa penggunaan fitur diskon dalam live streaming berpengaruh signifikan dan positif terhadap perilaku konsumen.
Strategi promosi melalui live streaming berdurasi panjang merupakan salah satu bentuk intensifikasi stimulus visual dan sosial yang terbukti efektif mendorong pembelian impulsif. Sebuah akun TikTok bernama Ribsgold melakukan siaran langsung selam hampir 22 jam. Selama siaran langsung tersebut, akun tersebut memperoleh omzet mencapai Rp 33,7 miliar (Pratama, 2023). BossUpCosmetics juga melakukan live streaming 12 jam di TikTok Shop dengan menawarkan produk bundle berdiskon 49% dari harga normal. Pendapatan sebesar US$70.000 dan penambahan 10.000 pengikut baru diperoleh dari sesi tersebut (Chang, 2024). Strategi ini menunjukkan bahwa TikTok Shop dan para influencer-nya paham memanfaatkan pola perilaku konsumen dalam live streaming.
Skala fenomena ini tampak pada data pengguna. Survei dari PartnerCentric (2025) menunjukkan bahwa hampir 25% pengguna TikTok Shop pernah melakukan pembelian impulsif, dan sekitar 23% dari mereka mengalami penyesalan setelahnya. Fakta ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana aspek-aspek dalam TikTok Shop, seperti fitur dasar TikTok Shop dan influencer, berperan dalam memengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen. Oleh karena itu, tulisan ini berupaya mengkaji lebih dalam perilaku tersebut dengan menggunakan pendekatan Stimulus–Organism–Response (SOR) dan Cognitive Dissonance Theory (CDT), guna memahami bagaimana praktik social commerce membentuk perilaku konsumtif masyarakat modern secara sistematis.
Model Stimulus–Organism–Response (S–O–R) yang diperkenalkan oleh Mehrabian dan Russell (1974) menjelaskan bahwa perilaku konsumen dipengaruhi oleh interaksi antara rangsangan eksternal (stimulus), kondisi psikologis internal (organism), dan tindakan yang dihasilkan (response). Model ini terdiri atas tiga komponen utama. Stimulus diartikan sebagai kekuatan eksternal yang merangsang proses internal individu (Kexin, 2023). Sementara itu, organism menggambarkan proses internal yang menjembatani hubungan antara stimulus dan tindakan, mencakup aspek perasaan dan pemikiran (Chang, 2011). Proses internal tersebut kemudian memunculkan response, yaitu reaksi atau perilaku nyata yang dilakukan individu (Kexin, 2023). Model S–O–R dikembangkan dari model tradisional S–R (Stimulus–Response). Penambahan unsur “O” (organism) dimaksudkan untuk menekankan bahwa proses pengambilan keputusan tidak semata-mata ditentukan oleh rangsangan eksternal, tetapi juga melibatkan mekanisme internal individu dalam menafsirkan dan merespons stimulus tersebut.
Format promosi produk di TikTok Shop umumnya terbagi menjadi dua, yakni video pendek dan siaran langsung (live streaming). Dalam kedua format ini, berbagai fitur bawaan platform seperti voucher, tombol “keranjang kuning”, dan desain UI/UX yang adiktif, serta peran influencer dengan kreativitasnya masing-masing berfungsi sebagai stimulus utama yang memengaruhi perilaku konsumen. Komponen-komponen tersebut dirancang oleh TikTok Shop dan para influencer untuk menciptakan pengalaman yang menarik dan pada akhirnya meningkatkan niat membeli.
Niat membeli sendiri didefinisikan sebagai kemungkinan atau keinginan seseorang untuk melakukan pembelian setelah terpengaruh oleh berbagai stimulus eksternal (Zou et al., 2024). Dalam penelitiannya, Jiangbo Zou et al, menemukan bahwa kecocokan antara produk dengan persona influencer (match-up congruence), pengetahuan influencer tentang produk, ketulusan, serta penampilan fisik influencer memiliki korelasi positif terhadap niat membeli konsumen dalam konteks siaran langsung e-commerce.
Berbagai stimulus yang telah dirancang oleh TikTok Shop diproses secara internal oleh penonton melalui tahapan yang dikenal sebagai “Organism” dalam model S–O–R. Tahapan ini mencakup tiga dimensi utama, yaitu keterbangkitan emosional (emotional arousal), penilaian kognitif (cognitive appraisal), dan evaluasi afektif (affective evaluation).
Pertama, emotional arousal merujuk pada tingkat rangsangan emosional yang dialami individu sebagai respons terhadap stimulus. Dalam konteks TikTok Shop, hal ini tercermin dari cara influencer tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga menyisipkan elemen hiburan dalam kontennya. Unsur hiburan ini bertujuan menarik perhatian, meningkatkan suasana hati (mood), dan menciptakan ikatan emosional yang lebih kuat antara penonton dan produk yang ditawarkan (Khasanah, 2024).
Kedua, cognitive appraisal merupakan proses mental yang dilakukan secara sadar untuk menilai sejauh mana suatu stimulus memiliki relevansi atau dampak terhadap diri seseorang (Le et al., 2020). Ketika seseorang menonton video pendek atau siaran langsung di TikTok Shop, proses ini terjadi secara cepat dan sering kali tanpa disadari. TikTok Shop dan para influencer secara strategis mengarahkan proses penilaian ini melalui berbagai fitur, seperti voucher dengan batas waktu tertentu, serta teknik komunikasi yang bersifat persuasif. Hal tersebut termasuk penggunaan nada suara, ekspresi wajah, dan gaya penyuntingan yang mendesak audiens untuk segera mengambil keputusan pembelian.
Ketiga, affective evaluation merujuk pada respons emosional yang muncul setelah individu berinteraksi dengan elemen-elemen dalam pengalaman berbelanja digital. Respons ini mencakup perasaan menyenangkan, suasana hati positif, persepsi terhadap kemudahan penggunaan (perceived ease of use), serta kepuasan emosional yang diperoleh saat menggunakan aplikasi (Kirubasri, 2025). Evaluasi ini terbentuk melalui kombinasi antara desain antarmuka pengguna (UI/UX), fitur interaktif dari platform, dan pengaruh emosional yang dibawa oleh influencer.
Sekilas, cognitive appraisal dan affective evaluation tampak serupa. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Cognitive appraisal melibatkan proses berpikir yang rasional dan sadar, sedangkan affective evaluation bersifat intuitif dan emosional, terjadi tanpa analisis logis yang mendalam. Keduanya berperan penting dalam menjembatani stimulus yang diterima dengan keputusan untuk melakukan pembelian.
Response merupakan elemen terakhir dalam Model Stimulus–Organism–Response (S–O–R). Setelah stimulus diterima dan diproses secara internal oleh individu, akan muncul output berupa tindakan nyata yang mengarah pada keputusan pembelian. Dalam konteks social commerce, yaitu ketika aktivitas jual beli terintegrasi dengan jejaring sosial melalui kemajuan teknologi, tindakan pengguna terhadap video pendek maupun siaran langsung tidak selalu berhenti pada pembelian. Terdapat berbagai bentuk interaksi lain yang mendahului atau bahkan berada di luar aktivitas pembelian tersebut.
Bentuk interaksi ini dikenal dengan istilah engagement. Dalam kajian perilaku konsumen, consumer engagement diartikan sebagai tingkat partisipasi individu terhadap berbagai penawaran atau aktivitas yang diselenggarakan oleh suatu organisasi . Engagement dapat diukur melalui beberapa jenis metrik, antara lain kuantitatif, kualitatif, dan hybrid. Metrik kuantitatif mencakup jumlah like, comment, dan share; metrik kualitatif menilai sentimen, nada, dan kedalaman komentar; sedangkan metrik hybrid mengukur durasi keterlibatan penonton terhadap konten (Trunfio et al., 2021). Melalui pengukuran ini, influencer maupun pihak TikTok Shop dapat menganalisis perilaku konsumennya secara lebih mendalam. Semakin tinggi tingkat engagement yang ditunjukkan penonton, semakin besar pula kemungkinan mereka untuk melakukan pembelian produk (Wibisono, 2023).
Setelah melakukan pembelian, konsumen dapat menunjukkan berbagai reaksi terhadap keputusan tersebut. Tidak jarang, sebagian di antaranya mengalami perasaan menyesal atas barang yang telah dibeli. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh IPSOS, sekitar dua dari lima konsumen di Amerika Serikat mengaku menyesali pembelian yang dilakukan saat periode diskon. Selain itu, survei lain oleh OnePoll menunjukkan bahwa 73% responden menyatakan tidak menyukai hingga lima belas barang yang pernah mereka beli. Temuan ini mengindikasikan bahwa reaksi berupa ketidaksukaan atau penyesalan setelah pembelian bukanlah hal yang jarang terjadi. Perasaan ketidakpuasan pascapembelian dapat muncul karena berbagai alasan, seperti perbedaan antara ekspektasi dan realitas produk, pengaruh emosi saat berbelanja, maupun faktor sosial. Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap reputasi serta tingkat kepercayaan konsumen terhadap suatu merek. Fenomena tersebut dikenal sebagai disonansi pascapembelian (post-purchase dissonance), yakni keadaan ketika konsumen merasakan ketidaknyamanan setelah melakukan keputusan pembelian.
Konsep disonansi pascapembelian berakar pada teori yang dikemukakan oleh psikolog Amerika, Leon Festinger, pada tahun 1957, yaitu Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory). Festinger menjelaskan bahwa ketika seseorang menyadari adanya pertentangan antara keyakinan, pemikiran, dan tindakannya sendiri, akan timbul dorongan psikologis untuk mengurangi ketidaksesuaian tersebut. Dalam teori ini, individu berusaha melakukan reduksi disonansi untuk memulihkan keseimbangan internal dan menurunkan pertentangan dalam pikiran. Semakin besar tingkat disonansi yang dirasakan, semakin kuat pula dorongan atau tekanan psikologis yang muncul untuk menguranginya. Festinger mengemukakan tiga cara utama dalam proses reduksi disonansi. Pertama, mengubah salah satu unsur kognitif, seperti menyesuaikan sikap atau perilaku agar sejalan dengan keyakinan yang dimiliki. Kedua, menambahkan unsur kognitif baru yang bersifat konsonan, misalnya dengan mencari pembenaran atau informasi tambahan yang mendukung keputusan yang telah diambil. Ketiga, mengurangi pentingnya unsur yang bertentangan, dengan meyakinkan diri bahwa perbedaan tersebut tidak terlalu berarti atau tidak relevan. Melalui ketiga mekanisme ini, individu berusaha memulihkan rasa konsistensi psikologis dan menstabilkan kembali keyakinan terhadap keputusan yang telah dibuat.
Teori disonansi kognitif memiliki keterkaitan yang erat dengan fenomena belanja di TikTok Shop. Desain platform ini secara inheren memperbesar kemungkinan timbulnya disonansi kognitif. Format video pendek yang digunakan oleh TikTok Shop membatasi waktu bagi para influencer untuk menjelaskan produk secara menyeluruh. Keterbatasan informasi tersebut mengurangi kemampuan konsumen dalam mengevaluasi keputusan pembelian, sehingga meningkatkan kecenderungan perilaku impulsif (Li, 2021). Kondisi ini berbeda dengan format siaran langsung, yang memungkinkan interaksi dua arah antara penjual dan pembeli serta memberikan informasi yang lebih komprehensif mengenai produk.
Sebagaimana dijelaskan dalam kerangka S-O-R, baik format video pendek maupun siaran langsung di TikTok Shop secara aktif memanfaatkan fitur voucher dan diskon dengan waktu terbatas. Keterbatasan waktu tersebut mendorong perilaku pembelian impulsif yang didasari oleh fenomena FOMO (fear of missing out), yaitu rasa cemas atau takut tertinggal dari pengalaman atau kesempatan yang dimiliki orang lain (Febrianty, 2025). Dalam konteks ini, FOMO muncul ketika konsumen tidak ingin melewatkan penawaran diskon yang bersifat sementara. Desakan waktu mempersempit ruang berpikir rasional, membuat individu mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan timbulnya disonansi kognitif.
Disonansi kognitif pascapembelian umumnya muncul dalam tiga bentuk utama: (1) konsumen menyadari bahwa produk yang dibeli tidak dibutuhkan atau harganya tidak sepadan dengan manfaatnya; (2) konsumen menyadari bahwa tindakannya bertentangan dengan prinsip rasional yang diyakininya; dan (3) bentuk lain yang terkait dengan ketidaksesuaian antara ekspektasi dan hasil aktual. Menurut Barta et al. (2020), disonansi kognitif dapat timbul ketika seseorang merasa telah membuat keputusan yang keliru karena membeli produk yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Untuk mengurangi ketegangan psikologis tersebut, konsumen berusaha melakukan pembenaran kognitif terhadap keputusannya.
Bentuk disonansi lain muncul ketika individu menyadari bahwa tindakannya tidak sesuai dengan prinsip rasional yang ia yakini. Hal ini terjadi ketika seseorang percaya bahwa tindakannya rasional, namun kemudian menyadari adanya kontradiksi antara sikap dan perilakunya. Untuk mengurangi ketegangan tersebut, individu dapat menyesuaikan pikirannya agar selaras dengan tindakannya, atau mengubah prinsipnya agar sesuai dengan perilaku yang telah dilakukan. Misalnya, seseorang yang sedang berhemat dan berkomitmen untuk tidak membeli barang yang kurang bermanfaat tergoda oleh siaran langsung TikTok Shop yang menawarkan diskon besar. Setelah membeli, ia menyadari barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan. Untuk mengurangi disonansi tersebut, ia membenarkan keputusannya dengan berpikir bahwa pembelian itu masih masuk akal karena harganya murah atau berguna di masa depan.
Namun, proses pengurangan disonansi kognitif tidak selalu berhasil. Ketika upaya pembenaran tersebut gagal, konsumen akan mengalami emosi negatif berupa penyesalan. Semakin besar usaha yang dilakukan untuk mengurangi disonansi namun tidak berhasil, semakin tinggi pula tingkat penyesalan yang dirasakan (Park et al., 2018). Besarnya rasa penyesalan bergantung pada seberapa efektif konsumen dapat merasionalisasi keputusannya. Selanjutnya, penyesalan tersebut berpengaruh terhadap niat pembelian ulang. Xu dan Ling (2025) menemukan bahwa penyesalan pascapembelian berpengaruh negatif secara signifikan terhadap niat pembelian ulang, sehingga semakin besar penyesalan yang dirasakan, semakin kecil kemungkinan konsumen untuk melakukan pembelian kembali di platform yang sama.
Sebagai penutup, fenomena disonansi kognitif yang muncul dalam aktivitas belanja di TikTok Shop menunjukkan bagaimana desain platform, strategi promosi, serta perilaku influencer dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen. Kombinasi antara dorongan emosional, keterbatasan waktu, dan paparan informasi yang tidak seimbang mendorong konsumen untuk bertindak impulsif tanpa pertimbangan yang matang. Akibatnya, sebagian konsumen mengalami ketidaksesuaian antara ekspektasi dan hasil pembelian yang memunculkan disonansi kognitif serta penyesalan pascapembelian. Kondisi ini, apabila tidak dikelola dengan baik, dapat menurunkan tingkat kepercayaan dan niat pembelian ulang terhadap platform maupun produk yang ditawarkan.
Oleh karena itu, influencer serta TikTok Shop perlu berupaya untuk menyajikan informasi yang lebih komprehensif mengenai produk yang dipromosikan. Penyampaian informasi yang lengkap, jujur, dan transparan akan membantu konsumen membuat keputusan yang lebih rasional dan mengurangi potensi timbulnya disonansi kognitif setelah pembelian. Upaya ini tidak hanya akan meningkatkan kepuasan konsumen, tetapi juga memperkuat loyalitas serta keberlanjutan ekosistem belanja daring di TikTok Shop.
Daftar Pustaka
Azzahra, A. S., & Indraswari, N. C. R. (2024). THE INFLUENCE OF LIVE STREAMING AND DISCOUNTS ON PURCHASE DECISIONS AT TIKTOK SHOP. Contemporary Studies in Economic, Finance and Banking., 3(3), 554–567. https://doi.org/10.21776/csefb.2024.03.3.02
Barta, S., Gurrea, R., & Flavián, C. (2022). Using augmented reality to reduce cognitive dissonance and increase purchase intention. Computers in Human Behavior, 140, 107564. https://doi.org/10.1016/j.chb.2022.107564
Chang, H., Eckman, M., & Yan, R. (2011). Application of the Stimulus-Organism-Response model to the retail environment: the role of hedonic motivation in impulse buying behavior. The International Review of Retail Distribution and Consumer Research, 21(3), 233–249. https://doi.org/10.1080/09593969.2011.578798
Chang, A. (2024, December 13). TikTok sellers are hosting marathon 12-hour shopping livestreams – Los Angeles Times. Los Angeles Times. https://www.latimes.com/business/story/2024-12-12/tiktok-shop-live-selling
Febrianty, N. P. a. T., Yanthi, N. N. P. D., N, N. I. G. a. P. J. S. D., & Kusumasari, N. N. M. I. (2025). The role of Fear of Missing Out (FOMO) in mediating the effect of scarcity perception on impulse buying. Jurnal Akuntansi Ekonomi Dan Manajemen Bisnis, 5(1), 56–64. https://doi.org/10.55606/jaemb.v5i1.5722
Festinger, L. (2017). A theory of cognitive dissonance. In Macat Library eBooks. https://doi.org/10.4324/9781912282432
Jesika. (2025). Pengaruh live streaming dan online customer review terhadap purchase intention di Shopee dengan trust sebagai variabel intervening [Undergraduate thesis, STIE YKPN]. STIE YKPN Repository. http://repositorybaru.stieykpn.ac.id/3198/
Kexin, Z., & Teo, P. (2023b). The adoption of Stimulus-Organism-Response (SOR) model in the social commerce literature. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, 13(7). https://doi.org/10.6007/ijarbss/v13-i7/17290
Khasanah, N. U., Rubiyanti, N. N., Widodo, N. A., & Silvianita, N. A. (2024). The Influence of Content Marketing on Customer Advocacy with Entertainment Intention as an Intervening Variable on Tiktok. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, 3(5), 1657–1664. https://doi.org/10.55927/fjmr.v3i5.9232
Kirubasri, N. G. D. K. S. D. G. (2025). Analyzing the impact of consumers’ internal stimuli on affective and cognitive buying behavior: A Mediated Perspective. Journal of Information SystKems Engineering & Management, 10(36s), 414–418. https://doi.org/10.52783/jisem.v10i36s.6463
Le, D., Pratt, M., Wang, Y., Scott, N., & Lohmann, G. (2020). How to win the consumer’s heart? Exploring appraisal determinants of consumer pre-consumption emotions. International Journal of Hospitality Management, 88, 102542. https://doi.org/10.1016/j.ijhm.2020.102542
Lutviari, N. H. W., Pradana, N. M., & Widodo, N. A. (2025). The Influence of Scarcity Message and Hedonic Shopping Motivation on Impulse Buying Through Perceived Enjoyment and its Impact on Post-Purchase Dissonance at Shopee Live. International Journal of Integrative Sciences, 4(2), 315–330. https://doi.org/10.55927/ijis.v4i2.16
Park, J., & Hill, W. T. (2018). Exploring the role of justification and cognitive effort exertion on post-purchase regret in online shopping. Computers in Human Behavior, 83, 235–242. https://doi.org/10.1016/j.chb.2018.01.036
PartnerCentric. (2025, November 13). TikTok Shopping Trends and Statistics by PartnerCentric. PartnerCentric. https://partnercentric.com/blog/tiktok-shop-trends-statistics/
Pongratte, L. J., Liu, J., Putri, M. D. P. W., & Paulin, A. (2023). The effect of promotion via TikTok live streaming on consumers’ buying interest in clothing products. Open Journal of Social Sciences, 11(04), 333–347. https://doi.org/10.4236/jss.2023.114024
Pratama, R. B. (2023, September 26). Dahsyatnya TikTok Shop: Live 22 Jam Bisa Dapat Omzet Rp 3,7 m. Kumparan. https://kumparan.com/kumparanbisnis/dahsyatnya-tiktok-shop-live-22-jam-bisa-dapat-omzet-rp-3-7-m-21GKpCGkpg9
Pratiwi, I. E. (2023, October 4). Pertama Kali Diluncurkan pada 2021, TikTok Shop Resmi Ditutup Hari Ini Pukul 17.00 WIB. KOMPAS.com. https://www.kompas.com/tren/read/2023/10/04/081500065/pertama-kali-diluncurkan-pada-2021-tiktok-shop-resmi-ditutup-hari-ini-pukul?page=all
Slickdeals. (2022, March 28). Buyer’s Remorse Due to Online Shopping Has Affected Seventy-four Percent of Americans, According to Survey Commissioned by Slickdeals. PR Newswire. https://www.prnewswire.com/news-releases/buyers-remorse-due-to-online-shopping-has-affected-seventy-four-percent-of-americans-according-to-survey-commissioned-by-slickdeals-301511257.html
TikTok Revenue and Usage Statistics (2025) – Business of Apps. (2025, November 20). Business of Apps. https://www.businessofapps.com/data/tik-tok-statistics/
Trunfio, M., & Rossi, S. (2021). Conceptualising and measuring social media engagement: A systematic literature review. Italian Journal of Marketing, 2021(3), 267–292. https://doi.org/10.1007/s43039-021-00035-8
Wibisono, N., Senalasari, W., White, M. E., & Februadi, A. (2023). E-WoM Engagement and Purchase Intention on Social Commerce Specialized in Beauty Products: A Perspective from Young Female Consumers. International Journal of Applied Business Research, 5(01). https://doi.org/10.35313/ijabr.v5i01.311
Wulandari, P., Azra, S., Buana, S. A., Masayu, A. C. P., & Panjaitan, E. C. B. (2025). Exploration of the influence of TikTok live streaming on increasing consumer purchase interest. journal.binus.ac.id. https://doi.org/10.21512/becossjournal.v7i3.13678
Xu, Y., & Ling, I. (2025). Perceived value versus intrusiveness: the role of privacy self-efficacy and decision quality in mobile augmented reality try-ons. Asia Pacific Journal of Marketing and Logistics, 1–20. https://doi.org/10.1108/apjml-06-2025-1250
Zou, J., & Fu, X. (2024). Understanding the purchase intention in live streaming from the perspective of social image. Humanities and Social Sciences Communications, 11(1). https://doi.org/10.1057/s41599-024-04054-6
