Anak Sebagai Aset atau Beban? Studi Ekonomi tentang Keputusan Fertilitas di Rumah Tangga Miskin

Author : Amanda Rahma Puspita

Pendahuluan

Ungkapan “banyak anak, banyak rezeki” mencerminkan pandangan budaya yang masih kuat di wilayah pedesaan, di mana anak dipandang sebagai aset ekonomi dan sosial. Rumah tangga dengan jumlah anak yang besar umum ditemukan di daerah rural dan sering dianggap sebagai bentuk ketahanan keluarga. Data BPS (2025) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di wilayah rural lebih tinggi dibandingkan wilayah urban, selaras dengan angka fertilitas yang juga cenderung lebih tinggi pada tahun 2024. Pola serupa juga ditemukan di negara-negara Eropa (Riederer & Beaujouan, 2023). Perbedaan fertilitas ini tidak hanya terkait akses terhadap layanan publik, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan kondisi struktural yang membentuk preferensi terhadap keluarga besar (Taqwim et al., 2025).

Gambar 1. Tingkat Fertilitas Indonesia dan Jepang pada Tahun 2003–2023

Sumber: World Bank (2024), diolah

 

Perbedaan angka fertilitas juga dapat diamati secara kontras antara negara-negara berkembang dan negara-negara maju. Terlihat pada Gambar 1., Indonesia sebagai salah satu negara berkembang memiliki TFR sebesar 2,1 kelahiran per ibu pada tahun 2023. Sementara itu, Jepang sebagai negara maju mencatatkan TFR yang jauh lebih rendah, yaitu sekitar 1,2 kelahiran per ibu pada tahun yang sama (Gambar 1). Rendahnya angka fertilitas di negara maju seperti Jepang dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti tingginya biaya hidup dan pengasuhan anak, peningkatan partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi dan dunia kerja yang menyebabkan penundaan usia menikah, serta kualitas asuransi sosial yang mendukung (Li & Dai, 2023). Di sisi lain, negara-negara berkembang cenderung memiliki sistem perlindungan sosial yang belum matang serta norma budaya yang masih belum mendukung keluarga besar. Perbandingan ini menunjukkan bahwa tingkat fertilitas tidak hanya dipengaruhi oleh keputusan individu, tetapi juga sangat erat kaitannya dengan tingkat pembangunan ekonomi dan sosial suatu negara.

 

Mengapa Rumah Tangga Miskin Tetap Memilih Punya Banyak Anak?

Keputusan Fertilitas dalam Perspektif Utility Maximization

Dalam teori ekonomi mikro, keputusan rumah tangga untuk memiliki anak dapat dianalisis melalui kerangka utility maximization (Todaro & Smith, 2020). Individu atau keluarga diasumsikan memiliki preferensi terhadap berbagai jenis “barang”, termasuk anak, dan membuat keputusan berdasarkan upaya untuk memaksimalkan kepuasan atau utility yang diperoleh dari konsumsi berbagai pilihan tersebut, dengan mempertimbangkan keterbatasan anggaran (budget constraint) yang dimiliki (Todaro & Smith, 2020). Dalam pendekatan ini, anak dipertimbangkan sebagai salah satu sumber utility dalam fungsi konsumsi rumah tangga. Melalui analisis kurva indiferensi, terdapat trade-off antara jumlah anak dan konsumsi barang lain: semakin banyak anak yang dimiliki, semakin besar pula sumber daya yang harus dialihkan dari konsumsi lain.

Gambar 2 Indifference Curve untuk Anak dan Barang Lain

Sumber: Todaro & Smith, 2020

 

Ilustrasi dalam teori ini menempatkan jumlah anak pada sumbu horizontal dan konsumsi barang lain pada sumbu vertikal. Titik optimal konsumsi rumah tangga tercapai pada titik singgung antara kurva indiferensi dan garis anggaran (titik e, f, g, h), yang menunjukkan kombinasi anak dan barang lain yang memaksimalkan kepuasan dalam batas anggaran. Ketika pendapatan meningkat, garis anggaran bergeser ke luar (misalnya dari ab ke a′b′), memungkinkan rumah tangga mencapai kurva indiferensi yang lebih tinggi. Perubahan ini mencerminkan efek pendapatan (income effect), di mana konsumsi atas anak dan barang lain bisa meningkat. Namun, rumah tangga tidak selalu menambah jumlah anak, melainkan bisa mengalihkan sumber daya untuk meningkatkan kualitas anak, seperti pendidikan dan kesehatan. Sebaliknya, jika biaya memiliki anak naik, misalnya akibat meningkatnya opportunity cost waktu ibu, garis anggaran menjadi lebih curam (ab ke ab″). Hal ini mencerminkan efek substitusi (substitution effect), yakni ketika anak menjadi relatif lebih mahal dibanding barang lain, rumah tangga cenderung mengurangi jumlah anak dan meningkatkan konsumsi barang lain. Dalam banyak kasus, efek pendapatan dan substitusi dapat terjadi bersamaan, ketika rumah tangga tetap mengalami peningkatan kesejahteraan, tetapi memilih memiliki anak lebih sedikit. Dengan demikian, keputusan fertilitas tidak hanya bergantung pada preferensi, tetapi juga dipengaruhi oleh keterbatasan ekonomi dan harga relatif yang berubah.

Anak sebagai Investasi Sosial dan Ekonomi

Pada rumah tangga miskin, anak sering dipersepsikan sebagai investasi jangka panjang (Gauthier & de Jong, 2021). Teori motivasi ekonomi fertilitas menyatakan bahwa selain utilitas konsumsi saat ini, orang tua juga mempertimbangkan keuntungan masa depan dari memiliki anak (Li et al., 2024). Misalnya, di banyak negara berkembang, anak dipandang sebagai bentuk jaminan sosial, di mana orang tua berharap dukungan ekonomi di usia tua dari anak-anak mereka (Gauthier & de Jong, 2021). Li et al. (2024) menunjukkan bahwa tradisi “membesarkan anak untuk masa tua” masih sangat kuat, dan ketidakpastian ekonomi justru mendorong rumah tangga miskin untuk memiliki lebih banyak anak sebagai strategi perlindungan masa depan. 

Anak dalam konteks ekonomi juga dipandang sebagai barang investasi yang diharapkan memberikan returns di masa depan, baik dalam bentuk dukungan finansial maupun peningkatan status sosial (Li et al., 2024). Gauthier & de Jong (2021) menegaskan bahwa investasi orang tua, baik berupa waktu maupun biaya pendidikan, dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan potensi pendapatan anak di masa depan. Dalam teori Becker, keluarga miskin cenderung memilih jumlah anak yang lebih banyak karena keuntungan ekonomi langsung, seperti tenaga kerja anak, dinilai lebih tinggi dibandingkan biaya pendidikan per anak (Li et al., 2024). Sementara itu, pada kelompok yang memiliki akses ke pendapatan dan kesempatan pendidikan lebih baik, fokus orang tua beralih pada peningkatan kualitas anak, seperti pendidikan yang lebih tinggi, sehingga jumlah anak yang diinginkan cenderung menurun (Gauthier & de Jong, 2021).

Keterbatasan Kognitif dan Informasi dalam Keputusan Fertilitas

Keputusan fertilitas dalam rumah tangga miskin tidak selalu didasarkan pada pertimbangan rasional jangka panjang seperti yang diasumsikan dalam teori ekonomi klasik. Dalam praktiknya, kemiskinan yang berkepanjangan dapat membatasi kapasitas kognitif individu, sehingga mereka kesulitan dalam memproses informasi kompleks dan mengambil keputusan yang optimal (Szaszi et al., 2023). Kondisi tekanan ekonomi yang terus-menerus membuat orang miskin lebih rentan mengambil keputusan dengan cakrawala waktu yang pendek. Studi eksperimental menunjukkan bahwa kemiskinan tidak hanya mengurangi sumber daya finansial, tetapi juga mengurangi “kapasitas mental” atau bandwidth kognitif yang dibutuhkan untuk merencanakan masa depan dengan matang (Szaszi et al., 2023).

Salah satu bias perilaku yang sering terjadi dalam rumah tangga miskin adalah scarcity mindset atau pola pikir kekurangan. Wang & Jiao (2023) menemukan bahwa keterbatasan sumber daya menyebabkan individu terjebak dalam fokus berlebihan pada kebutuhan saat ini, sehingga mereka kesulitan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan yang diambil. Dalam konteks fertilitas, pola pikir ini membuat orang tua lebih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari dan menunda atau bahkan mengabaikan penggunaan kontrasepsi. Ketika perhatian mereka tersita oleh kekurangan yang harus segera diatasi, rencana pengendalian kelahiran menjadi prioritas yang sering tertunda (Wang & Jiao, 2023).

Selain scarcity mindset, bias psikologis seperti present bias juga berperan penting dalam keputusan fertilitas. Present bias mendorong individu untuk lebih memprioritaskan manfaat yang bisa diperoleh dalam jangka pendek, meskipun keputusan tersebut merugikan dalam jangka panjang (Xiao & Porto, 2019). Dalam konteks rumah tangga miskin, kecenderungan ini muncul dalam bentuk keinginan untuk memiliki anak tambahan sebagai jaminan sosial masa depan, meskipun konsekuensi ekonomi dari membesarkan banyak anak akan memperberat kondisi keluarga dalam jangka panjang. Xiao dan Porto (2019) juga mencatat bahwa bias ini sering kali mendorong perilaku tidak terencana, seperti menunda penggunaan kontrasepsi meskipun risiko kehamilan tidak diinginkan semakin tinggi. Di sisi lain, norma sosial yang mengakar di lingkungan masyarakat miskin juga memperkuat kecenderungan fertilitas tinggi. Dalam komunitas tertentu, memiliki banyak anak dianggap sebagai simbol keberhasilan dan jaminan dukungan masa tua, sehingga menambah anak sering dipandang sebagai keputusan yang positif secara sosial meski kurang menguntungkan secara ekonomi (Norris et al., 2019). Studi Norris et al. (2019) di Malawi menunjukkan bahwa rumah tangga miskin sering kali mengambil keputusan fertilitas yang didorong oleh kebutuhan mendapatkan rasa aman dan dukungan sosial, dengan mengabaikan sepenuhnya beban konsumsi dan biaya pendidikan yang akan ditanggung dalam jangka panjang. Dengan demikian, keputusan rumah tangga miskin untuk memiliki banyak anak bukanlah keputusan yang sepenuhnya rasional dalam kerangka perencanaan ekonomi jangka panjang. 

Ketika Anak Menjadi Korban dari Keputusan Fertilitas Orang Tua

Risiko Ganda bagi Anak dari Keluarga Miskin di Negara Berkembang

Anak-anak yang lahir dalam keluarga miskin berukuran besar menghadapi tantangan ganda: mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi, sekaligus harus berbagi sumber daya yang sudah terbatas dengan banyak saudara (Maclean, 2016). Kondisi seperti ini lazim ditemukan di Afrika dan Asia Tenggara, dua wilayah dengan tingkat kemiskinan dan fertilitas yang tinggi (Maclean, 2016). Di Filipina, sepertiga anak hidup dalam kemiskinan dan berisiko tinggi mengalami stunting akibat kekurangan gizi (UNICEF USA,  n.d.). Situasi ini memperburuk keterbatasan yang sudah dialami keluarga miskin, karena sumber daya seperti gizi, pendidikan, dan perhatian orang tua harus dibagi kepada banyak anak (Maclean, 2016). Ketika sistem sosial negara tidak mampu memberikan dukungan yang memadai, anak-anak dari keluarga miskin beranak banyak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai bentuk deprivasi dan kesenjangan (Canning et al., 2022).

Teori Quantity-Quality Tradeoff dalam Keluarga Miskin

Xu et al. (2025) menjelaskan bahwa semakin banyak anak yang dimiliki dalam keluarga, semakin kecil porsi investasi yang dapat diberikan orang tua kepada masing-masing anak. 

Di Indonesia, setiap tambahan anak dalam keluarga berhubungan erat dengan menurunnya rata-rata lama sekolah dan meningkatnya risiko putus sekolah, terutama dalam rumah tangga miskin dengan ibu berpendidikan rendah (Feng, 2021). Hal tersebut diperkuat oleh Hong & Wang (2023) yang menegaskan bahwa semakin besar ukuran keluarga dalam lingkungan miskin, semakin rendah pencapaian pendidikan dan kesejahteraan anak. Dampak trade-off ini semakin terasa di negara berkembang dengan jaminan sosial yang lemah, karena keluarga miskin tidak mendapatkan perlindungan memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar anak (Canning et al., 2022). 

Dampak Multidimensional Fertilitas Tinggi terhadap Anak dari Keluarga Miskin

Fertilitas tinggi dalam keluarga miskin menimbulkan dampak yang saling berkaitan pada kesehatan, pendidikan, dan perkembangan psikososial anak. Dalam aspek kesehatan, jumlah anak yang besar membatasi distribusi pangan bergizi dan melemahkan kemampuan orang tua dalam memantau kondisi kesehatan setiap anak (Tumaji et al., 2025). Penelitian di Indonesia menemukan bahwa keluarga dengan lebih dari lima anggota memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak yang stunting (Tumaji et al., 2025). Stunting pada masa kanak-kanak tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga menurunkan kapasitas belajar dan produktivitas sepanjang hidup (Suryana & Azis, 2023). 

 

Dalam bidang pendidikan, keluarga miskin dengan banyak anak sering kesulitan membiayai seluruh kebutuhan pendidikan anak-anak mereka (Feng, 2021). Feng (2021) menunjukkan bahwa setiap tambahan anak dalam keluarga berkorelasi dengan berkurangnya rata-rata lama sekolah dan meningkatnya risiko putus sekolah. Anak-anak dari keluarga besar kerap terpaksa membantu pekerjaan rumah tangga atau mengasuh adik mereka (Tan et al., 2024). Selain itu, keterbatasan finansial mengurangi kemampuan orang tua dalam memberikan dukungan akademik, seperti pembelian buku atau pembayaran biaya sekolah (Tan et al., 2024). Di Filipina, UNICEF USA (n.d.) melaporkan bahwa hanya sebagian kecil anak dari keluarga termiskin yang mampu menyelesaikan pendidikan menengah, memperlihatkan kesenjangan akses pendidikan yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa fertilitas tinggi dalam keluarga miskin memperburuk kualitas pendidikan dan memperpanjang ketidaksetaraan sosial.

 

Fertilitas tinggi juga mempengaruhi perkembangan psikososial anak secara signifikan. Anak-anak dari keluarga besar miskin sering kekurangan perhatian personal, stimulasi kognitif, dan interaksi edukatif dari orang tua (Tan et al., 2024). Terbatasnya waktu dan energi orang tua dalam keluarga besar membuat pengasuhan individual sulit terpenuhi (Tan et al., 2024). Dalam banyak kasus, anak-anak dalam keluarga besar diasuh oleh kakak yang masih kecil atau anggota keluarga lain yang tidak mampu memberikan stimulasi optimal (Tumaji et al., 2025). Guo et al. (2022) menegaskan bahwa perhatian emosional yang terbagi dalam keluarga besar berdampak pada keterlambatan perkembangan sosial, kesulitan konsentrasi, dan rendahnya rasa percaya diri. Kurangnya stimulasi dini dan pengasuhan responsif juga meningkatkan risiko masalah perilaku dan keterlambatan kesiapan akademik (Tan et al., 2024).

 

Dampak dari fertilitas tinggi dalam keluarga miskin tidak hanya terbatas pada satu generasi, tetapi berisiko berulang lintas generasi (Canning et al., 2022). Suryana dan Azis (2023) mencatat bahwa ibu yang mengalami malnutrisi masa kecil berpeluang lebih besar melahirkan anak yang stunting, memperkuat transmisi kemiskinan secara biologis. Selain itu, Canning et al. (2022) menegaskan bahwa anak-anak dari keluarga miskin berukuran besar memiliki kemungkinan tinggi untuk tetap berada dalam kemiskinan ketika dewasa, terutama jika mereka gagal mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang memadai sejak dini. Tanpa intervensi kebijakan yang efektif, seperti pengendalian fertilitas dan peningkatan akses pendidikan serta gizi, siklus kemiskinan ini akan terus berulang dan menghambat pembangunan sumber daya manusia di negara-negara berkembang.

 

Menurunkan Fertilitas, Meningkatkan Kesempatan

Strategi Pengendalian Fertilitas di Negara Berkembang: Kontrasepsi dan Peningkatan Kualitas Human Capital dan Kapasitas Lapangan Kerja

Upaya menurunkan fertilitas tinggi di rumah tangga miskin memerlukan strategi yang terintegrasi, dengan mempertimbangkan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang (Nimani et al., 2023). Intervensi jangka pendek umumnya berupa peningkatan akses kontrasepsi seperti pil KB, suntik KB, dan voucher keluarga berencana (Nimani et al., 2023). Sementara itu, intervensi jangka panjang lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan perluasan lapangan kerja (Meng, 2023). Penelitian menunjukkan bahwa TFR menurun secara signifikan seiring meningkatnya pendidikan perempuan dan pemakaian kontrasepsi (Götmark & Andersson, 2020).

Program kontrasepsi intensif terbukti efektif menekan fertilitas dengan cepat di banyak negara berkembang (Barham et al., 2021). Studi di Matlab, Bangladesh, menunjukkan bahwa peningkatan akses kontrasepsi menurunkan rata-rata jumlah kelahiran perempuan, meskipun dampak ekonomi jangka panjang tidak selalu signifikan (Barham et al., 2021). Hal serupa terjadi di Ethiopia, di mana peningkatan akses KB dan pengurangan pernikahan dini menaikkan contraceptive prevalence rate (CPR) dari 8% pada tahun 2000 menjadi 41% pada tahun 2019 (Kibret et al., 2022). Ini menegaskan bahwa kontrasepsi efektif menurunkan fertilitas, namun efek ekonomi yang berkelanjutan memerlukan dukungan perubahan sosial yang lebih luas (Kibret et al., 2022).

Sebaliknya, intervensi pendidikan dan lapangan kerja berkontribusi penting dalam menurunkan fertilitas secara jangka panjang (Meng, 2023). Meng (2023) menemukan bahwa tambahan tiga hingga empat tahun sekolah bagi perempuan dapat menurunkan jumlah anak hingga 1–1,4 anak per perempuan, dan tambahan satu tahun pendidikan menurunkan fertilitas sekitar 0,3–0,4 anak. Selain itu, peluang kerja yang lebih luas dan pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau seperti subsidi kontrasepsi mampu menunda kehamilan dan meningkatkan kesejahteraan perempuan dalam jangka panjang (Nimani et al., 2023).

Perbandingan ini menunjukkan bahwa kontrasepsi jangka pendek efektif untuk menekan fertilitas dalam waktu singkat, terutama untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan (Kibret et al., 2022). Namun, penurunan fertilitas yang berkelanjutan lebih efektif dicapai melalui peningkatan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi perempuan (Meng, 2023). Temuan global menegaskan bahwa pendidikan memiliki dampak lebih kuat terhadap TFR dibandingkan peningkatan pendapatan atau akses kontrasepsi semata (Götmark & Andersson, 2020). 

Kebijakan Penurunan Fertilitas dan Penerapannya di Indonesia

Beberapa negara telah berhasil menurunkan fertilitas melalui kebijakan terintegrasi. Salah satunya adalah program conditional cash transfer (CCT) “Juntos” di Peru, yang memberikan bantuan tunai kepada ibu miskin dengan syarat memanfaatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan anak (Laszlo et al., 2022). Laszlo et al. (2022) menemukan bahwa program ini meningkatkan penggunaan kontrasepsi modern dan menurunkan rata-rata jumlah anak pada penerima manfaat. Selain menurunkan fertilitas, program ini juga tidak menciptakan insentif untuk memiliki lebih banyak anak, justru mendorong keluarga miskin mencapai jumlah anak ideal (Laszlo et al., 2022).

Studi lain menunjukkan bahwa kebijakan pemberdayaan ekonomi perempuan juga efektif menurunkan fertilitas di negara berkembang (World Bank, 2024). World Bank (2024) menyatakan bahwa memperkuat hak kepemilikan dan warisan bagi perempuan di beberapa negara Afrika berhasil mengurangi ketergantungan perempuan pada anak sebagai jaminan hari tua. Selain itu, program beasiswa pendidikan bagi anak perempuan dan pelatihan kerja bagi ibu rumah tangga miskin juga terbukti menunda pernikahan dan menurunkan angka kelahiran dini di berbagai negara (World Bank, 2024).

Kebijakan-kebijakan tersebut dapat direplikasi di Indonesia dengan pendekatan yang terintegrasi. Pelaksana utamanya dapat melibatkan Kementerian Kesehatan, BKKBN, dan Kementerian Sosial, yang berkolaborasi untuk menyatukan program KB dengan skema bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Targetnya adalah keluarga miskin yang terdata dalam program perlindungan sosial (misalnya penerima PKH atau keluarga miskin desa). 

Dalam praktiknya, BKKBN dan Dinas Kesehatan dapat bekerja sama dengan pendamping PKH untuk mengadakan posyandu dan edukasi KB di komunitas miskin. Pemerintah daerah dan aparat desa dapat memfasilitasi pelaksanaan program dan memastikan intervensi tepat sasaran. Kebijakan ini juga memanfaatkan infrastruktur yang telah ada seperti data terpadu kemiskinan, jaringan posyandu, dan kelompok penerima manfaat PKH. Mengingat kebutuhan kesehatan reproduksi ibu miskin di Indonesia serupa dengan di negara berkembang lain, strategi ini dinilai relevan dan layak diterapkan. Selain itu, program ini dapat dikombinasikan dengan perluasan akses pendidikan bagi anak perempuan, yang sudah didukung oleh program pendidikan wajib 12 tahun dan beasiswa lokal di Indonesia. 

Kesimpulan

Keputusan fertilitas dalam rumah tangga miskin dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural, ekonomi, sosial, dan psikologis. Anak kerap diposisikan sebagai aset ekonomi maupun jaminan sosial, meskipun dalam jangka panjang kondisi ini dapat memperkuat siklus kemiskinan antar generasi. Pendekatan pengendalian fertilitas yang efektif memerlukan kombinasi intervensi jangka pendek, seperti perluasan akses kontrasepsi, serta strategi jangka panjang melalui peningkatan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi, khususnya bagi perempuan. Dengan kebijakan yang terintegrasi dan berbasis bukti, penurunan fertilitas dapat mendukung pembangunan manusia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2025). Poverty line (Rupiah/Kapita/Month) by area, 2024. BPS-Statistics Indonesia. https://www.bps.go.id/en/statistics-table/2/MTgyIzI=/poverty-line-rupiah-kapita-month-by-area.html

Barham, T., Champion, B., Foster, A. D., Hamadani, J. D., Jochem, W. C., Kagy, G., Kuhn, R., Menken, J., Razzaque, A., Root, E. D., & Turner, P. S. (2021). Thirty-five years later: Long-term effects of the Matlab maternal and child health/family planning program on older women’s well-being. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(28). https://doi.org/10.1073/pnas.2101160118 

Canning, D., Mabeu, M. C., & Pongou, R. (2022). Colonial origins and fertility: Can the market overcome history? SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.4070963 

Feng, N. (2020). The Effect of Sibling Size on Children’s Educational Attainment: Evidence From Indonesia. ECNU Review of Education, 4(4), 830–856. https://doi.org/10.1177/2096531120921703 

Gauthier, A. H., & De Jong, P. W. (2021). Costly children: the motivations for parental investment in children in a low fertility context. Genus, 77(1). https://doi.org/10.1186/s41118-020-00111-5

Götmark, F., & Andersson, M. (2020). Human fertility in relation to education, economy, religion, contraception, and family planning programs. BMC Public Health, 20(1). https://doi.org/10.1186/s12889-020-8331-7

Hong, X., & Wang, M. (2023). The Challenge of Chinese Children’s Emotion Regulation: Child Number, Parental Emotion Regulation, and Its Relationship with Reactions to Children’s Negative Emotions. Sustainability, 15(4), 3812. https://doi.org/10.3390/su15043812

Ji, L., & Dai, W. (2023). The impact of social security on fertility willingness in OECD countries. Open Journal of Business and Management, 11(02), 755–767. https://doi.org/10.4236/ojbm.2023.112041

Laszlo, S., Majid, M. F., & Renée, L. (2023). Conditional cash transfers and women’s reproductive choices. Health Economics, 33(2). https://doi.org/10.1002/hec.4768

Li, J., Li, T., & Wang, W. (2024). The impact of income inequality on the fertility intention: A micro perspective based on relative deprivation. PLoS ONE, 19(12), e0311991. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0311991

Maclean, R. (2022, October 19). High birth rates and poverty undermine a generation of African children – report. The Guardian. https://www.theguardian.com/global-development/2016/aug/25/high-birth-rates-poverty-undermine-generation-african-children-odi-report#:~:text=High%20birth%20rates%20and%20poverty,of%20African%20children%20%E2%80%93%20report

Meng, C. (2023). School Starting Age, Female Education, Fertility Decisions, and Infant Health: Evidence from China’s Compulsory Education Law. Population Research and Policy Review, 42(3). https://doi.org/10.1007/s11113-023-09792-0

Nimani, T. D., Tadese, Z. B., Tadese, E. E., & Butta, F. W. (2023). Trend, geographical distribution, and determinants of modern contraceptive use among married reproductive-age women, based on the 2000, 2005, 2011, and 2016 Ethiopian demographic and health survey. BMC Women S Health, 23(1). https://doi.org/10.1186/s12905-023-02789-z

Norris, A. H., Rao, N., Huber-Krum, S., Garver, S., Chemey, E., & Turner, A. N. (2019). Scarcity mindset in reproductive health decision making: a qualitative study from rural Malawi. Culture Health & Sexuality, 21(12), 1333–1348. https://doi.org/10.1080/13691058.2018.1562092

Riederer, B., & Beaujouan, É. (2023). Explaining the urban–rural gradient in later fertility in Europe. Population Space and Place, 30(1). https://doi.org/10.1002/psp.2720

Suryana, E. A., & Azis, M. (2023). THE POTENTIAL OF ECONOMIC LOSS DUE TO STUNTING IN INDONESIA. Jurnal Ekonomi Kesehatan Indonesia, 8(1), 52. https://doi.org/10.7454/eki.v8i1.6796

Szaszi, B., Palfi, B., Neszveda, G., Taka, A., Szécsi, P., Blattman, C., Jamison, J. C., & Sheridan, M. (2023). Does alleviating poverty increase cognitive performance? Short- and long-term evidence from a randomized controlled trial. Cortex, 169, 81–94. https://doi.org/10.1016/j.cortex.2023.07.009

Tan, P. Y., Chan, C. L., Som, S. V., Dye, L., Moore, J. B., Caton, S., & Gong, Y. (2024). Prevalence and key determinants of the triple burden of childhood malnutrition in Southeast Asian countries: a systematic review and meta-analysis within an adapted socio-ecological framework. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 1–15. https://doi.org/10.1080/10408398.2024.2419539

Taqwim, S. F., Vaezghasemi, M., Castel-Feced, S., Dewi, F. S. T., & Schröders, J. (2025). The role of women’s empowerment in fertility Preferences and Outcomes: Analysis of the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey. BMC Women S Health, 25(1). https://doi.org/10.1186/s12905-025-03748-6

Todaro, M. P., & Smith, S. C. (2020). Economic development. Pearson Higher Ed.

Tumaji, N., Laksono, A. D., & Kusumawardani, H. D. (2025). Children’s Characteristics as the Predictors of Stunting among Children Under 2 Years in East Nusa Tenggara in Indonesia. Indian Journal of Community Medicine, 50(1), 162–168. https://doi.org/10.4103/ijcm.ijcm_384_23

UNICEF USA. (n.d.). UNICEF in the Philippines. Retrieved July 2, 2025, from https://www.unicefusa.org/what-unicef-does/where-unicef-works/asia/philippines

Wang, X., & Jiao, L. (2023). A sense of scarcity enhances the Above-Average effect in social comparison. Behavioral Sciences, 13(10), 826. https://doi.org/10.3390/bs13100826

World Bank Group. (n.d.). Fertility rate, total (births per woman). World Bank Open Data. Retrieved July 2, 2025, from https://data.worldbank.org/indicator/SP.DYN.TFRT.IN

World Bank Group, UNICEF, & World Health Organization (Eds.). (2020). Levels and Trends in child malnutrition. World Health Organization.

Xiao, J. J., & Porto, N. (2019). Present bias and financial behavior. Financial Planning Review, 2(2). https://doi.org/10.1002/cfp2.1048

Xu, G., Liu, Y., Tu, Z., & Yang, X. (2025). A study on the Differences in Parental Educational Expectations and Adolescents’ academic and Psychological Development: A Comparative Analysis of Only Children and Non-ONly Children. Behavioral Sciences, 15(4), 402. https://doi.org/10.3390/bs15040402

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *